Di sinilah muncul ruang perdebatan.
Bagi pemerintah, desil adalah instrumen statistik untuk memetakan kesejahteraan. Bagi masyarakat, angka tersebut dapat terasa membingungkan jika tidak disertai penjelasan yang mudah dipahami.
BPS sendiri menegaskan bahwa posisi desil dapat berubah karena kondisi sosial ekonomi keluarga dan posisi relatifnya terhadap keluarga lain juga dapat berubah.
Jadi, Benarkah Desil Bisa Membuat Orang Miskin Jadi Kaya?
Jawabannya tidak.
Desil tidak membuat seseorang menjadi kaya atau miskin. Desil hanya menunjukkan posisi relatif keluarga dalam pemeringkatan kesejahteraan berdasarkan sejumlah karakteristik sosial ekonomi.
Unggahan Ommi de Queen lebih tepat dipahami sebagai sindiran terhadap cara masyarakat memahami sistem pendataan bansos, bukan sebagai penjelasan teknis mengenai cara kerja DTSEN.
Bagi masyarakat yang merasa data desilnya tidak sesuai kondisi sebenarnya, pemerintah menyediakan mekanisme pemutakhiran melalui kanal resmi seperti Cek Bansos, pemerintah desa/kelurahan, dan mekanisme terkait DTSEN.
Pada akhirnya, percakapan Twitter tentang desil bansos memperlihatkan pentingnya komunikasi kebijakan yang sederhana. Data boleh menggunakan istilah statistik, tetapi masyarakat tetap membutuhkan penjelasan yang mudah dipahami.
Bagaimana menurut Anda, apakah sistem desil sudah cukup mudah dipahami masyarakat? Tulis pendapat Anda di kolom komentar.