BACAKORAN.CO – Persoalan data desil kembali ramai di media sosial. Kali ini, perhatian publik tertuju pada unggahan akun X @Opposite6888 yang menyoroti warga dengan kondisi ekonomi sulit tetapi justru tercatat dalam desil tinggi.
Unggahan tersebut menjadi sorotan karena status desil dapat berkaitan dengan akses masyarakat terhadap sejumlah program pemerintah.
Terlebih, keluhan yang muncul bukan sekadar soal angka di database. Lebih dari itu Warganet mengaitkannya dengan bansos, beasiswa pendidikan, hingga akses program pemerintah lainnya.
DPR Minta Data Desil Diperbaiki 2 Minggu
Akun @Opposite6888 mengunggah informasi bahwa DPR meminta BPS memperbaiki data desil dalam waktu maksimal dua minggu.
“Akhirnya DPR meminta BPS untuk memperbaiki Desil dalam waktu 2 minggu!”
Dalam unggahannya, masyarakat yang merasa posisi desilnya tidak sesuai didorong melaporkan kondisi tersebut melalui kanal BPS.
Pertanyaan lain yang ikut muncul adalah bagaimana sebenarnya BPS memperoleh data yang kemudian digunakan untuk menentukan posisi desil masyarakat.
BACA JUGA:Desil Bansos Bikin Heboh, Benarkah Orang Miskin Jadi Kaya?
Warganet Soroti Kasus Desil 9 dan 10
Percakapan di kolom komentar kemudian berkembang menjadi berbagai pengalaman masyarakat.
Salah satu keresahan yang muncul adalah keluarga dengan kondisi ekonomi sederhana tetapi justru mendapatkan klasifikasi desil tinggi.
Dalam unggahan tersebut bahkan dicontohkan rumah yang digambarkan sebagai “gubuk derita” tetapi masuk Desil 9.
Ada pula contoh keluarga yang masih menumpang di rumah mertua, sementara mertua disebut masih berstatus mengontrak, tetapi masuk Desil 10.
Komentar semacam ini membuat isu desil semakin emosional.
Pasalnya, bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan, perubahan klasifikasi dapat terasa langsung ketika mereka mengurus bantuan pendidikan atau perlindungan sosial.
Ada yang Serius, Ada yang Menyindir
Percakapan warganet tidak seluruhnya berisi kritik.