BACAKORAN.CO – Sebuah video yang beredar luas menunjukkan seorang siswa perempuan korban dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbaring di tempat tidur rumah sakit sambil terhubung infus dan oksigen.
Dengan suara lemah namun tegas, ia menyampaikan pesan langsung kepada pejabat “Gak mau lagi aku makan MBG, Pak.”
Pernyataan tersebut mencerminkan trauma mendalam setelah mengalami gejala mual, muntah, dan pusing yang dialami ribuan siswa lainnya di berbagai daerah.
Kasus keracunan terkait MBG yang terus berulang sejak program diluncurkan Januari 2025 kini memicu penolakan terbuka dari siswa, orang tua, dan masyarakat di beberapa wilayah.
Pemerintah, melalui Badan Gizi Nasional (BGN), diminta mendengar jeritan rakyat dan memprioritaskan keselamatan penerima manfaat ketimbang target distribusi.
BACA JUGA:Kabur ke Sumut, Oknum Kades di Musi Rawas Ditangkap Kasus Pemerasan
Program MBG yang digagas untuk mengurangi stunting dan meningkatkan gizi anak-anak Indonesia justru dihadapkan pada tantangan serius keamanan pangan.
Data surveilans Kementerian Kesehatan per 2 September 2026 mencatat 560 kejadian keracunan terkait program ini dengan 50.059 orang terdampak di 245 kabupaten/kota di 36 provinsi.
Angka tersebut belum termasuk gelombang kasus awal September 2026 yang menimpa hampir 2.000 orang di Sidoarjo, Rembang, Agam, Tana Toraja, dan lokasi lain.
Sebagaimana dikutip dari akun X @RstmBcl pada tanggal 6 September 2026, video tersebut dilengkapi komentar yang menekankan bahwa pemerintah yang baik adalah yang mendengar jeritan rakyat karena takut keracunan.
BACA JUGA:Enam Naskah Kuno Muara Enim Buka Jejak Literasi Masa Lampau
“Sungguh di luar nalar, kalau tetap dipaksakan lanjut. Sementara si penerima sudah menolak, takut trauma keracunan lagi dan pastinya orang tuanya pun takkan rela dengan dalih apapun untuk keracunan lagi demi makan gratis,” tulis @RstmBcl.
Makan Bergizi Gratis diluncurkan secara resmi pada 6 Januari 2025 dengan target mencapai puluhan juta penerima manfaat setiap tahun.
Hingga Maret 2026, tercatat sekitar 61,2 juta orang telah menerima manfaat, dengan target 2026 mencapai 82,9 juta.
Pelaksanaan dilakukan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyiapkan dan mendistribusikan makanan ke sekolah dan posyandu.