BACAKORAN.CO - Antrean BBM di sejumlah wilayah Sulawesi menjadi sorotan di X setelah sebuah unggahan menyebut antrean semakin panjang dan memicu cekcok. Unggahan tersebut juga menuding adanya perlakuan berbeda antara pembeli BBM tertentu.
Akun @indepenSumatera mengunggah pernyataan tersebut pada 13 September 2026. Hingga unggahan itu beredar, narasi mengenai antrean dan dugaan perlakuan berbeda memancing respons dari sejumlah pengguna X.
BACA JUGA:5 Siasat Hemat BBM Mobil LCGC Saat Terjebak Macet Perkotaan Menuju Kampus
Unggahan Antrean BBM Sulawesi Jadi Sorotan
Dalam unggahannya, akun Sumatera Adil & Federal menggambarkan kondisi antrean BBM sebagai persoalan ketidakadilan.
“Sulawesi mulai chaos. Antrean BBM memanjang.”
Akun tersebut kemudian mengaitkan situasi dengan dugaan adanya konsumen yang memperoleh layanan lebih dahulu karena memiliki privilese.
Narasi itu juga menggunakan istilah siri', yang dalam konteks unggahan dipakai untuk menyerukan keberanian masyarakat menyampaikan aspirasi.
Namun, unggahan tersebut belum memberikan rincian lokasi SPBU, jumlah antrean, maupun bukti independen yang memastikan adanya praktik pilih kasih.
BACA JUGA:5 Keunggulan Suzuki Fronx SGX Kuro 2026 Crossover Canggih, Irit BBM, dan Gaya Sporty Elegan
Warganet Sebut Tiga SPBU Mengalami Antrean
Salah satu akun, @Ambrosia_flowe7, membalas dengan menyebut kondisi serupa terjadi di wilayahnya.
Akun yang diberi label parodi oleh X tersebut menulis bahwa terdapat tiga SPBU yang mengalami antrean.
Komentar itu disertai sebuah gambar yang diklaim memperlihatkan kondisi antrean.
Respons tersebut memperluas pembahasan dari satu unggahan menjadi pengalaman pengguna lain mengenai panjangnya antrean BBM.
Ada Dugaan Pertalite dan Pertamax Dilayani Berbeda
Komentar lain datang dari akun @Kholiq1881.
Ia memberikan sudut pandang berbeda mengenai penyebab antrean. Menurutnya, di sejumlah wilayah timur, jalur pengisian Pertalite dan Pertamax terkadang tidak dipisahkan.
Kondisi tersebut, menurut komentar itu, dapat membuat pembeli Pertamax dilayani lebih dahulu sementara antrean Pertalite tetap menunggu.
Pernyataan tersebut merupakan pengalaman atau pendapat pengguna X. Belum dapat dijadikan bukti bahwa seluruh SPBU di Sulawesi menerapkan pola pelayanan yang sama.
BACA JUGA:5 Alasan Mobil Hybrid Jauh Lebih Irit BBM Saat Macet Stop-and-Go Dibanding Mobil Bensin Biasa
Tuduhan Privilese Belum Bisa Disimpulkan
Bagian paling ramai dari unggahan adalah tudingan bahwa konsumen tertentu mendapatkan perlakuan istimewa.
Isu seperti ini mudah memicu kemarahan karena berkaitan langsung dengan akses masyarakat terhadap BBM.
Namun, antrean panjang tidak otomatis membuktikan adanya pilih kasih. Perbedaan jalur, jenis BBM, stok, sistem pelayanan, hingga kondisi SPBU dapat memengaruhi lama antrean.
Karena itu, diperlukan informasi lokasi yang jelas dan keterangan dari pengelola SPBU atau pihak terkait untuk memastikan penyebabnya.
BACA JUGA:Desil 9-10 Berpotensi Dilarang Beli BBM Subsidi, Simak Kriteria Pengeluaran Lengkapnya
Mengapa Percakapan Ini Mudah Viral?
Ada beberapa faktor yang membuat narasi antrean BBM cepat mendapatkan perhatian.
Pertama, BBM merupakan kebutuhan harian masyarakat. Gangguan distribusi atau antrean panjang langsung berdampak pada aktivitas warga.
Kedua, unggahan tersebut menggunakan narasi ketidakadilan. Frasa seperti “privilese” dan “rakyat jelata” membuat persoalan antrean terasa lebih emosional.
Ketiga, adanya gambar dan video membuat pengguna lebih mudah menghubungkan narasi dengan kondisi lapangan.
Keempat, komentar warganet menghadirkan pengalaman berbeda. Ada yang mengeluhkan antrean, sementara lainnya mencoba menjelaskan kemungkinan penyebabnya.
BACA JUGA:6 Mobil Hybrid Paling Irit 2026, BBM Hemat Performa Mantap
Jangan Langsung Menyimpulkan Sulawesi “Chaos”
Istilah “Sulawesi mulai chaos” dalam unggahan merupakan narasi akun tersebut, bukan kesimpulan resmi mengenai kondisi seluruh wilayah Sulawesi.
Begitu pula tudingan bahwa pemerintah pusat sengaja membiarkan masyarakat berada dalam antrean tidak disertai bukti dalam percakapan yang dibagikan.
Yang terlihat dari percakapan X adalah adanya keresahan mengenai antrean BBM di sejumlah lokasi. Seberapa luas masalah tersebut dan apa penyebab utamanya masih membutuhkan verifikasi lapangan.
Bagi masyarakat, informasi mengenai lokasi SPBU, kondisi stok, jenis BBM yang tersedia, serta mekanisme antrean akan jauh lebih membantu daripada sekadar narasi provokatif.
Kesimpulannya, percakapan tentang antrean BBM di Sulawesi menunjukkan keresahan publik terhadap akses dan pelayanan BBM. Namun, dugaan pilih kasih maupun klaim bahwa kondisi tersebut sudah menyebabkan “chaos” perlu dibuktikan dengan data dan keterangan resmi.