Siprianus Antonius, salah seorang penumpang, menyatakan bahwa seandainya awak kapal sejak awal menekan alarm bahaya, para penumpang bisa lebih siap.
“Kebanyakan penumpang lagi ada di dalam kamar saat ombak menghantam kapal,” ujar Antonius dalam video yang beredar.
BACA JUGA:Hari Ketiga Pencarian Wartawan Anak Krakatau, TNI AL Temukan Life Jacket
Marsianus, korban lain yang membawa barang ekspedisi J&T Cargo bersama kakaknya Wilfredus (masih hilang hingga kini), mengaku sedang tidur di ruang tempat barang.
“Saat kejadian sekitar pukul 02.00 Wita, saya terbangun setelah mengetahui kapal dalam kondisi terbalik,” kata Marsianus.
Kesaksian serupa datang dari Ahmad Saudi.
Ia merasa kapal tiba-tiba miring ke kiri dengan sangat cepat sekitar pukul 01.20 Wita tanpa alarm maupun pemberitahuan.
“Saya tanya kenapa, dijawab kapal miring. Langsung saya lari,” ujar Ahmad Saudi saat ditemui di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin.
Ia bertahan dengan berpegangan pada tiang jendela hingga kapal hampir tenggelam, lalu menyelamatkan diri menggunakan perahu karet.
BACA JUGA:Kejari PALI Musnahkan 394 Gram Sabu dan 57 Butir Ekstasi
“Kasihan banget,” tulis @hendrylvrsky di X.
Sementara @aurelia_KPop berkomentar, “Syukur banyak yang selamat.”
Update Data Korban dan Operasi SAR (per 14 September 2026)
Berdasarkan laporan Basarnas dan Kemenhub hingga Minggu sore hingga Senin pagi:
Total di atas kapal: 243 orang (30 kru, 27 mitra kerja, 59 penumpang dewasa, 1 anak, 126 sopir/kernet) + 89 kendaraan.
Dievakuasi: sekitar 113–130 orang (tergantung update), dengan 107–108 selamat dan 6 meninggal dunia.
Masih dicari: sekitar 130 orang.