bacakoran.co - dunia pendidikan kembali menjadi sorotan publik setelah video viral menunjukkan sejumlah di kabupaten berkeliling kampung meminta sumbangan di tengah jam pelajaran.
aksi tersebut ditujukan untuk menggalang dana pembangunan mushola , namun menuai kontroversi karena melibatkan anak-anak di luar konteks pembelajaran formal.
video viral siswa bawa kotak amal di jam belajar
unggahan dari akun instagram @tribuntimurdotcom menampilkan momen siswa sdn 150 inpres toddopulia, kecamatan tanralili, berjalan kaki dari rumah ke rumah warga sambil membawa kotak amal.
“bangun mushola sekolah, siswa sdn 150 todopulia maros keliling kampung bawa kotak amal minta sumbangan ke warga,” tulis akun tersebut.
ironisnya, kegiatan tersebut dilakukan saat jam belajar masih aktif.
anak-anak dibagi ke dalam kelompok kecil berisi dua hingga tiga orang, dan melakukan penggalangan sumbangan rutin setiap hari jumat.
pengakuan sekolah
pihak sdn 150 inpres toddopulia tidak membantah video tersebut.
kepala sekolah muhammad amir mengakui bahwa aktivitas meminta infak itu memang dilakukan oleh siswa, sebagai bentuk spontanitas usai pelaksanaan salat duha bersama.
ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut sudah berlangsung selama dua bulan terakhir tanpa anggaran formal.
“di sekolah kami ada program salat duha bersama. jadi setelah salat itulah digunakan anak-anak cari infak untuk bangun musala. tidak ada rencana, hanya spontanitas. sudah dua bulan,” ujarnya dilansir bacakoran.co dari metrotvnews pada selasa, 29 juli 2025.
amir menambahkan bahwa dana pembangunan mushola tidak tersedia dalam anggaran resmi, sehingga pihak sekolah mendorong bentuk gotong-royong untuk memenuhi kebutuhan sarana ibadah tersebut.
namun, keputusan melibatkan siswa dalam aktivitas semacam itu justru memicu polemik.
tanggapan dinas pendidikan
dinas pendidikan kabupaten maros langsung bereaksi terhadap video yang menjadi viral.
sekretaris dinas pendidikan maros, zainuddin, menyampaikan penyesalan atas keterlibatan siswa dalam kegiatan penggalangan dana, apalagi di jam pelajaran.
“tujuannya baik, tapi karena melibatkan siswa mengumpulkan sumbangan, apalagi di jam belajar, itu yang keliru. apapun itu, kami turut bertanggung jawab,” tegasnya.
dinas pendidikan pun bergerak cepat dengan mengeluarkan instruksi agar tidak ada lagi keterlibatan siswa dalam aktivitas serupa.
zainuddin memastikan bahwa surat edaran akan dikirim ke seluruh satuan pendidikan sebagai bentuk pencegahan terhadap kegiatan yang tidak sesuai dengan norma pendidikan.
risiko dan dampak terhadap pendidikan
fenomena ini memunculkan sejumlah pertanyaan besar seputar etika dan peran pendidik dalam mengarahkan kegiatan siswa.
meskipun memiliki niat membangun mushola, pelibatan siswa dalam kegiatan yang bukan bagian dari kurikulum atau kegiatan sekolah yang terencana dapat berdampak negatif terhadap proses belajar mengajar.
anak-anak seharusnya menerima pendidikan yang menyeluruh dalam ruang kelas, dan bukan diarahkan untuk berpartisipasi dalam penggalangan dana, apalagi tanpa pengawasan dan izin resmi dari pihak berwenang.
keputusan sekolah yang tidak melibatkan wali murid dan tidak menyampaikan pemberitahuan resmi kepada dinas atau instansi terkait juga dinilai sebagai pelanggaran terhadap tata kelola lembaga pendidikan yang ideal.
kejadian di sdn 150 inpres toddopulia maros menjadi pengingat penting bagi para pemangku kepentingan pendidikan untuk selalu mengedepankan prinsip perencanaan, transparansi, dan perlindungan siswa dalam setiap keputusan.
meskipun niat membangun mushola merupakan hal baik, proses pelaksanaannya harus dijalankan sesuai kaidah pendidikan dan hukum yang berlaku.
sebagai langkah solutif, pemerintah daerah dan dinas pendidikan harus memperkuat sinergi dengan sekolah-sekolah untuk memastikan pembangunan fasilitas dilakukan secara bertanggung jawab tanpa mengorbankan hak belajar anak-anak.