Waduh! Ribuan Barista Starbucks Ancam Mogok Massal Jelang Musim Liburan, Gegara Ini!
Tuntut gaji naik, barista Starbucks ancam lakukan mogok massal jelang musim liburan dan “Red Cup Day” yang jadi momen hari tersibuk Starbucks sepanjang tahun.--rajawali/ist
BACA JUGA:Tetapkan 3 Tersangka Baru! KPK Ungkap Perkembanagan Penyidikan Kasus Korupsi RSUD Kolaka Timur!
Ini bukan pertama kalinya ketegangan memuncak.
Pada April lalu, serikat pekerja menolak tawaran Starbucks yang hanya menjanjikan kenaikan gaji 2% per tahun, tanpa perubahan signifikan pada tunjangan atau kesejahteraan ekonomi karyawan.
Starbucks Klaim Sudah Paling Baik di Industri
Menanggapi ancaman mogok, pihak Starbucks menyatakan jika perusahaan sudah memberikan kondisi kerja terbaik di dunia ritel.
BACA JUGA:Terkini! Gempa Lembata Hari Ini Magnitudo 3,2: Warga NTT Diminta Tetap Waspada
BACA JUGA:Kepergok Masuk Rumah, Kadir Gigit Tangan Ibu-ibu Pemilik Rumah yang Berusaha Menangkapnya
“Setiap kesepakatan harus mencerminkan kenyataan bahwa Starbucks telah menawarkan pekerjaan terbaik di industri ritel,” ujar manajemen dalam pernyataan resminya.
Starbucks juga menyoroti paket tunjangan unggulan, termasuk asuransi kesehatan, cuti orang tua, dan program kuliah online gratis di Arizona State University bagi karyawan yang bekerja minimal 20 jam per minggu.
Namun, bagi para barista, janji-janji itu belum cukup menjawab tekanan ekonomi dan kondisi kerja berat yang mereka hadapi setiap hari.
Starbucks di Ujung Tantangan
BACA JUGA:Belum Bisa Berkomunikasi dengan Ammar Zoni, Aditya Zoni Harap Kakaknya Dihadirkan dalam Sidang!
BACA JUGA:Dituding Langgar Disiplin, Ayah Prada Lucky Bantah Dirinya Langgar Aturan: Saya Punya Martabat!
Aksi mogok ini datang di saat yang sangat genting.
Starbucks baru saja mencatat enam kuartal berturut-turut penurunan penjualan hingga akhir Oktober, dengan pertumbuhan nyaris stagnan yakni 0% di Amerika Utara, dan 1% secara global.
CEO Brian Niccol, yang baru-baru ini mengambil alih, sedang berupaya melakukan restrukturisasi besar-besaran dengan menutup lebih dari 600 gerai, termasuk toko serikat unggulan di Seattle, dan memangkas karyawan korporat demi efisiensi.