Relawan Medis Tersingkir di Musim Liburan, Menkes Ungkap Kendala Transportasi saat Nataru
Menkes Budi Gunadi Sadikin mengungkap relawan medis kesulitan tiket pesawat saat libur Nataru karena kalah bersaing dengan wisatawan.--
BACAKORAN.CO - Momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang seharusnya menjadi waktu istirahat bagi sebagian masyarakat justru menghadirkan tantangan serius bagi para relawan medis.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa banyak tenaga kesehatan (nakes) kesulitan menjangkau lokasi tugas akibat padatnya penerbangan domestik yang dipenuhi pelancong.
Situasi ini mencuat setelah muncul laporan adanya relawan kesehatan yang terpaksa mengambil rute tidak biasa, Jakarta–Malaysia–Medan, demi mendapatkan tiket pesawat dengan harga lebih terjangkau.
Fenomena tersebut langsung menyedot perhatian publik karena memperlihatkan ironi di tengah kondisi darurat kemanusiaan.
BACA JUGA:Ini Alasan Petugas Penyelenggara Haji Harus Kuat Fisik dan Mental
Menurut Menkes, penumpukan penumpang menuju Medan menjadi penyebab utama krisis tiket pesawat bagi relawan.
Kota Medan memang menjadi pintu masuk strategis untuk menjangkau sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera Utara bagian pedalaman, seperti Bener Meriah, Langkat, hingga Aceh Tengah.
“Wilayah-wilayah itu jauh lebih mudah diakses lewat Medan dibandingkan Banda Aceh,” jelas Budi Gunadi dalam konferensi pers daring, Senin (12/1/2026).
Namun, bertepatan dengan puncak arus liburan akhir tahun, tiket kelas ekonomi ke Medan ludes terjual.
BACA JUGA:Kabar Gembira untuk Petani, Pemerintah Target Serap Gabah 2026 Sebesar 4 Juta Ton
Kebijakan diskon tiket pesawat yang dikeluarkan pemerintah demi mendorong sektor pariwisata turut memperparah situasi.
“Pas Nataru, banyak masyarakat yang liburan. Pemerintah juga memberikan diskon harga tiket sehingga semuanya masuk ke sana,” ujar Menkes.
Ironisnya, di tengah tingginya kebutuhan tenaga medis, relawan justru tidak masuk dalam skema prioritas transportasi.
Tiket yang tersisa hanya kelas bisnis dengan harga yang jauh lebih mahal dan tidak terjangkau oleh sebagian besar relawan.
BACA JUGA:IHSG Anjlok 2 Persen Siang Ini, Investor Panik Lalu Rebound Mengejutkan!
“Tidak masuk ke bagian ini untuk para relawan. Yang ada hanya tiket-tiket kelas bisnis yang mahal,” tambah Budi Gunadi.
Akibat kondisi tersebut, sejumlah nakes terpaksa menunda keberangkatan, sementara sebagian lainnya mencari jalur alternatif meski harus memutar dan memakan waktu lebih lama.
Kendala transportasi ini menjadi krusial karena kebutuhan tenaga medis di Aceh sedang berada di titik tertinggi.
Pemerintah mencatat terdapat sekitar 1.000 titik pengungsian dan ratusan desa yang membutuhkan layanan kesehatan secara intensif.
BACA JUGA:Ngobrol di Teras Rumah Saat Hujan Deras, Sepasang Muda Mudi Disambar Petir, Satu Tewas
Situasi semakin kompleks karena banyak nakes lokal Aceh juga menjadi korban bencana, kehilangan rumah dan fasilitas hidup.
Hal ini membuat pemerintah harus mendatangkan bantuan medis dari berbagai daerah lain di Indonesia.
Setiap minggu, terjadi rotasi sekitar 700 hingga 1.000 relawan medis yang masuk dan keluar wilayah terdampak.
Gangguan transportasi sempat menghambat ritme kerja kemanusiaan, terutama dalam layanan darurat dan pemulihan kesehatan masyarakat.
BACA JUGA:Kecanduan Judol, Motor Kawan Digadaikan, Masih Kalah Akhirnya Oknum Mahasiswa Masuk Penjara
Meski sempat terjadi anomali rute ekstrem seperti transit ke Malaysia, Menkes memastikan bahwa kondisi tersebut bersifat sementara.
Seiring berakhirnya masa libur panjang, ketersediaan tiket pesawat kini berangsur normal.
“Sekarang kondisinya sudah kembali normal dan teman-teman sudah bisa terbang langsung ke Medan untuk menjadi relawan,” tegas Budi Gunadi.
Pemerintah juga berkomitmen untuk mengevaluasi mekanisme prioritas transportasi agar kejadian serupa tidak terulang, terutama saat terjadi situasi darurat yang membutuhkan mobilisasi cepat tenaga medis.
BACA JUGA:Dugaan Child Grooming Roby Tremonti Mencuat Usai Buku Broken String Karya Aurelie Moeremans
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan logistik dan transportasi adalah kunci dalam penanganan krisis kemanusiaan.
Di masa depan, sinergi antara sektor kesehatan, perhubungan, dan kebijakan publik perlu diperkuat agar relawan tidak kembali tersisih oleh kepentingan non-darurat.
Relawan medis bukan sekadar penumpang biasa. Mereka adalah garda terdepan yang memastikan negara hadir di tengah masyarakat saat bencana melanda.