Trump Ancam Tarif 200 Persen Produk Prancis, Macron Tolak Gabung Dewan Perdamaian AS
Donald Trump mengancam tarif 200 persen untuk produk Prancis demi menekan Macron agar bergabung dengan Dewan Perdamaian AS. Prancis menolak tegas.--
BACA JUGA:Guru SDN di Serpong Ditangkap! Belasan Murid Jadi Korban Pelecehan Seksual
Menurut pihak Macron, piagam pembentukan Dewan Perdamaian yang diajukan AS dinilai melampaui tujuan awal dan berpotensi menabrak prinsip-prinsip internasional.
Awalnya, Dewan Perdamaian dirancang untuk mengawasi pembangunan kembali Jalur Gaza pasca perang antara Israel dan Hamas.
Namun, draf piagam terbaru menunjukkan bahwa peran dewan ini tidak terbatas hanya pada Gaza, melainkan mencakup penyelesaian konflik global secara lebih luas.
“Hal ini menimbulkan pertanyaan besar, terutama terkait penghormatan terhadap prinsip dan struktur Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang tidak dapat dipertanyakan dalam keadaan apa pun,” ungkap sumber yang dekat dengan Macron.
BACA JUGA:Tidak Sendiri, Bupati Pati Sudewo Ditangkap KPK Bersama Camat, Kades dan Perangkat Desa!
Kekhawatiran utama Prancis adalah kemungkinan Dewan Perdamaian ini menggeser atau melemahkan peran PBBdalam menjaga perdamaian dunia, sesuatu yang dinilai sangat sensitif dalam tatanan diplomasi global.
Kontroversi semakin menguat setelah terungkap isi draf piagam Dewan Perdamaian yang dikirimkan pemerintahan Trump kepada sekitar 60 negara.
Dalam dokumen tersebut, disebutkan bahwa negara yang ingin memperoleh keanggotaan permanen diwajibkan memberikan kontribusi sebesar US$ 1 miliar atau setara sekitar Rp 16,9 triliun.
Sementara itu, keanggotaan biasa dibatasi hanya selama tiga tahun.
BACA JUGA:Terbongkar! Perakit Senjata Api Ilegal di Sumedang Jual Senpi Lewat E-Commerce dan Media Sosial
Skema ini memicu kecurigaan di kalangan diplomat internasional, yang menilai Dewan Perdamaian berpotensi menjadi alat politik dan ekonomi Amerika Serikat.
Beberapa negara yang menerima undangan AS pun bersikap sangat hati-hati.
Sejumlah diplomat asing menilai inisiatif Trump ini justru dapat membahayakan kinerja PBB, alih-alih memperkuat upaya perdamaian global.
Ancaman tarif tinggi terhadap produk Prancis menandai gaya diplomasi keras Trump yang kembali mengandalkan tekanan ekonomi sebagai alat negosiasi politik.