Modus ini dilaporkan sebagai bentuk pemerasan digital, dengan tujuan agar pihak bank memberikan respon dan pengakuan terhadap klaim tersebut.
Tak hanya data perbankan, polisi juga menemukan bahwa WFT mengaku telah mengakses dan menjual data dari sektor lain, seperti perusahaan kesehatan dan beberapa institusi swasta.
BACA JUGA:Cara Efektif Melindungi Akun WhatsApp dari Hacker, Jangan Sampai Jadi Korban!
Aktivitasnya dilakukan melalui dark forum atau dark web, tempat di mana data-data hasil peretasan sering diperjualbelikan secara anonim menggunakan mata uang kripto.
Barang Bukti Digital yang Diamankan
Dalam proses penangkapan, polisi menyita sejumlah barang bukti yang menjadi kunci penyelidikan.
Di antaranya dua ponsel, satu tablet, dua SIM card, dan sebuah media penyimpanan berisi 28 akun email yang digunakan WFT dalam aktivitasnya.
Semua perangkat tersebut kini sedang dalam tahap analisis forensik digital untuk memastikan sejauh mana keterlibatan pelaku dan apakah ia terhubung dengan jaringan peretas lainnya.
BACA JUGA:Bukan Kelompok Sembarangan! Ini Profil Hacker Pro-Israel yang Bobol Bursa Kripto dan Bank Iran
BACA JUGA:Setelah Bank, Giliran Bursa Kripto Iran Diretas Hacker Pro-Israel, Rp 1,4 T Lenyap!
Latar Belakang Pendidikan dan Kemampuan Teknologi
Salah satu fakta yang cukup mengejutkan adalah latar belakang pendidikan WFT.
Ia diketahui tidak menyelesaikan pendidikan di SMK dan tidak memiliki latar belakang teknologi informasi secara formal.
Ia hanya belajar melalui konten media sosial, komunitas daring, dan forum hacker internasional.
Meski begitu, kemampuannya dalam mengakses data dan menjelajahi forum gelap membuatnya mampu melakukan aksi-aksi peretasan yang cukup canggih.
BACA JUGA:Perang Dunia Maya Dimulai! Hacker Israel Retas Bank Iran, Data Nasabah Musnah?