“Melalui DVI, identitas korban dapat dipastikan secara sah. Ini bukan hanya soal data, tapi soal menjaga martabat korban dan memberikan ketenangan bagi keluarga mereka,” tegasnya.
BACA JUGA:Dentuman Misterius di Cirebon! BRIN Pastikan Itu Meteor Besar yang Jatuh di Laut Jawa
Namun, tantangan lain muncul karena banyak korban yang masih berusia anak-anak atau remaja dan belum memiliki identitas resmi seperti KTP.
Dalam kasus seperti ini, tim DVI mengandalkan data sekunder seperti ijazah, catatan sekolah, ciri fisik, hingga pakaian terakhir yang dikenakan korban.
Bila diperlukan, pemeriksaan DNA juga dilakukan untuk memastikan keakuratan identifikasi.
Sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat, BNPB mendirikan posko terpadu pelaporan dan pengaduan bagi keluarga korban.
BACA JUGA:Prabowo Panggil Kepala BGN, Tegaskan Seluruh Dapur MBG Wajib Punya Test Kit Kebersihan
Posko ini menjadi pusat informasi resmi bagi masyarakat yang masih mencari anggota keluarganya atau ingin mengetahui perkembangan terkini dari operasi penyelamatan dan identifikasi.
Kepala BNPB juga menginstruksikan seluruh unsur di lapangan, termasuk TNI, Polri, dan pemerintah daerah, untuk memberikan pelayanan terbaik kepada warga.
“Saya minta semua unsur melayani masyarakat dengan baik. Kita harus transparan dalam menyampaikan informasi, dan menjelaskan dengan jelas mana informasi yang bisa dibuka dan mana yang dikecualikan,” tuturnya.
Di sisi lain, dukungan psikososial juga diberikan kepada keluarga korban. Tim dari Polri, Dinas Sosial, dan relawan telah dikerahkan untuk memberikan pendampingan emosional di Rumah Sakit Bhayangkara.
BACA JUGA:Viral! Dukun Lansia Ditangkap Usai Lecehkan Remaja di Tanah Laut, Modus Pengobatan Guna-guna
BACA JUGA:Viral Bola Api Terbang di Langit Cirebon Disertai Dentuman Keras Gegerkan Warga, BMKG Buka Suara
BNPB bersama BPBD Jawa Timur juga menyiapkan tenda khusus dengan fasilitas dasar seperti tempat istirahat, layanan medis, dan konsumsi bagi keluarga yang menunggu proses identifikasi jenazah.