Serangan Udara Israel Kembali Guncang Gaza Saat Gencatan Senjata Berlaku dan Tewaskan 11 Orang

Sabtu 31 Jan 2026 - 18:55 WIB
Reporter : Melly
Editor : Melly

BACAKORAN.CO - Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza kembali memburuk setelah rentetan serangan udara Israel menghantam sejumlah wilayah pada Sabtu, 31 Januari 2026, waktu setempat.

Serangan terbaru ini menewaskan sedikitnya 11 warga sipil dan melukai puluhan lainnya, termasuk mereka yang sedang berlindung di tenda-tenda pengungsian.

Yang menjadi sorotan dunia internasional, serangan tersebut terjadi saat gencatan senjata antara Israel dan Hamas masih berlaku.

Kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat itu sejatinya dimaksudkan untuk meredakan konflik dan membuka ruang pemulihan kemanusiaan di wilayah yang telah luluh lantak akibat perang berkepanjangan.

BACA JUGA:Vonis MSCI Bikin Dana Asing Berbondong ke Malaysia, RI Gigit Jari!

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Barsh, menyampaikan bahwa serangan Israel menyasar area sipil, termasuk sebuah tenda pengungsian dan sebuah apartemen.

Akibatnya, setidaknya 11 orang meninggal dunia dan sekitar 20 orang mengalami luka-luka, sebagian dalam kondisi serius.

Para korban dilarikan ke sejumlah rumah sakit di Gaza City di wilayah utara dan Khan Younis di bagian selatan Jalur Gaza.

Sayangnya, fasilitas kesehatan di Gaza saat ini berada di titik kritis akibat kelangkaan obat-obatan, pasokan medis, dan peralatan rumah sakit.

BACA JUGA:Normalisasi Kali Cakung Dikebut, Pramono Anung Turunkan Alat Berat, Target Selesai 2027

“Kami terus menghadapi pelanggaran serius terhadap perjanjian gencatan senjata, sementara sistem kesehatan berada di ambang kolaps,” ujar al-Barsh.

Kantor Pers Pemerintah Gaza melaporkan bahwa salah satu serangan di wilayah selatan Jalur Gaza menewaskan tujuh orang dari satu keluarga, termasuk seorang anak-anak dan seorang lansia.

Mereka diketahui berlindung di tenda darurat setelah rumah mereka hancur akibat konflik sebelumnya.

Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa warga sipil, khususnya pengungsi, menjadi pihak paling rentan dalam konflik yang belum menemukan titik damai permanen.

BACA JUGA:Guncangan IHSG Berujung Dirut BEI Mundur, Menkeu Nilai Pasar Justru Dapat Angin Segar

Kategori :