Gempa Pacitan M 6,4: BMKG Ungkap Penyebab Subduksi Lempeng dan Fakta Megathrust

Jumat 06 Feb 2026 - 13:52 WIB
Reporter : Ayu
Editor : Ayu

BACAKORAN.CO - BMKG mengungkapkan penyebab gempa Pacitan M 6,4 dipicu aktivitas subduksi lempeng di selatan Jawa.

Pernyataan ini menegaskan bahwa gempa yang terjadi di wilayah selatan Jawa bukanlah fenomena biasa, melainkan bagian dari proses tektonik yang kompleks dan berulang.

Subduksi lempeng merupakan peristiwa ketika lempeng samudra menekan dan menyusup ke bawah lempeng benua, sehingga menimbulkan akumulasi energi yang sewaktu-waktu dapat dilepaskan dalam bentuk gempa bumi.  

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa gempa Pacitan, Jawa Timur berkekuatan M 6,4 terjadi pada Jumat, 6 Februari 2026 dini hari.

BACA JUGA:Terkuak! Oknum Bea Cukai Diduga Sewa Safe House untuk Simpan Duit dan Emas, KPK Sita Rp40,5 Miliar

BACA JUGA:5 Tahun Buron, 1 Perampok Pasangan Suami Istri yang Bacok dan Perkosa Korban Tertangkap

Peristiwa ini sontak membuat masyarakat di berbagai daerah merasakan guncangan yang cukup signifikan.

Meski demikian, BMKG segera melakukan analisis cepat untuk memastikan parameter gempa agar masyarakat mendapatkan informasi yang akurat.  

Gempa Pacitan kemudian memiliki parameter update dengan magnitudo M 6,2.

Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8,98° LS ; 111,18° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 89 Km arah Tenggara Kota Pacitan, Jawa Timur pada kedalaman 58 km.

BACA JUGA:Kasus PT Dana Syariah Indonesia: Penipuan Rp 2,47 Triliun, Tiga Petinggi Jadi Tersangka

BACA JUGA:Ditunggu Niat Baik Nya Nek.., Terekam CCTV Diduga Curi Emas di Toko Perhiasan

"Gempa bumi yang terjadi merupakan genis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi lempeng," kata Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono.

Pernyataan ini menegaskan bahwa gempa tersebut tidak berasal dari kedalaman yang sangat dalam, melainkan dari zona subduksi yang relatif dekat dengan permukaan.  

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault)," sambungnya.

Kategori :