Kepala militer Israel, Eyal Zamir, menyatakan bahwa operasi militer yang sedang berlangsung kemungkinan tidak akan berakhir dalam waktu dekat.
“Operasi ini tidak akan singkat. Kami akan membawa pasukan dan kemampuan tambahan ke utara. Kami terus bergerak maju,” ujar Zamir.
BACA JUGA:Warga Panik! Harga Telur, Beras, dan Minyak Goreng Meroket Menjelang Idul Fitri 1447 H
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa konflik antara Israel dan Hizbullah berpotensi berlangsung lebih lama dan dapat meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Operasi militer besar Israel terhadap Hizbullah dilaporkan dimulai setelah kelompok tersebut meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel pada 2 Maret 2026.
Sejak saat itu, Hizbullah disebut hampir setiap hari meluncurkan roket dan drone ke wilayah Israel sebagai bentuk perlawanan.
Militer Israel menyebut bahwa pada Rabu malam, Hizbullah meluncurkan sekitar 200 roket dan 20 drone secara bersamaan, yang juga disertai dengan peluncuran rudal balistik dari Iran.
Namun menurut Eyal Zamir, dari ratusan proyektil tersebut, hanya dua yang berhasil mencapai wilayah Israel, sementara sebagian besar berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel.
BACA JUGA:Doktif Kecewa dan Sentil Richard Lee yang Masih Gunakan Wig Saat Ditahan: Tidak Boleh
Eskalasi konflik antara Israel dan Hizbullah kembali meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Serangan udara yang menjangkau pusat kota Beirut menunjukkan bahwa konflik ini tidak lagi terbatas pada wilayah perbatasan, tetapi mulai berdampak langsung pada kawasan perkotaan dan warga sipil.
Situasi ini juga menimbulkan kekhawatiran komunitas internasional mengenai kemungkinan meluasnya konflik regional yang melibatkan lebih banyak pihak.
Jika ketegangan terus meningkat, konflik ini berpotensi memperburuk kondisi kemanusiaan di Lebanon serta memperpanjang ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah.