Korban Serangan Israel di Lebanon Tembus 826 Orang, Krisis Kemanusiaan Kian Memburuk

Minggu 15 Mar 2026 - 09:11 WIB
Reporter : Melly
Editor : Melly

Serangan di lokasi ini juga menewaskan banyak tenaga medis lainnya, sehingga menambah daftar panjang korban dari kalangan petugas penyelamat dan kesehatan.

BACA JUGA:24.022 Jemaah Umrah Indonesia Sudah Pulang, Pemerintah Pastikan Tak Ada yang Telantar!

WHO turut menyuarakan keprihatinan serius atas serangan terhadap fasilitas kesehatan di Lebanon.

Serangan terhadap tenaga medis dan fasilitas kesehatan membuat situasi kemanusiaan makin rumit. Dalam kondisi normal saja, rumah sakit adalah elemen vital ketika konflik terjadi.

Namun ketika rumah sakit justru menjadi sasaran atau berada di bawah ancaman, maka kapasitas negara untuk menyelamatkan korban menjadi sangat terbatas.

Di tengah serangan yang terus meningkat, pemimpin Hizbullah Naim Qassem menegaskan bahwa kelompoknya siap menghadapi konflik berkepanjangan dengan Israel.

BACA JUGA:Resmi Ditahan KPK Sebagai Tersangka, Harta Eks Menag Yaqut Cholil Jadi Sorotan, Sentuh Angka Rp 13 Miliar!

Dalam pidato yang disiarkan di televisi pada Jumat, 13 Maret 2026, Qassem menyebut bahwa pihaknya telah menyiapkan diri untuk pertempuran jangka panjang dan menganggap konflik ini sebagai pertarungan yang sangat menentukan.

Pernyataan itu muncul setelah Israel mengancam Lebanon akan membayar harga yang semakin mahal, termasuk lewat kerusakan infrastruktur. Ucapan Qassem menandakan bahwa ketegangan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Sebaliknya, kedua pihak tampak semakin siap untuk melanjutkan eskalasi.

Dalam konteks ini, perang tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga memperluas dampaknya ke kehidupan sipil.

Warga sipil harus menghadapi ancaman serangan udara, keterbatasan akses kesehatan, kerusakan jalan penghubung, dan ketidakpastian soal keamanan sehari-hari.

BACA JUGA:OTT KPK! Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman Diciduk, 2 Tersangka Resmi Ditetapkan

Salah satu perkembangan paling menonjol dalam eskalasi terbaru adalah penghancuran jembatan di atas Sungai Litaniyang menghubungkan kota Zrariyeh dan Tayr Falsay pada Jumat, 13 Maret 2026.

Serangan ini penting karena jembatan tersebut merupakan salah satu penghubung vital antara wilayah Lebanon selatan dengan area timur dan barat.

Militer Israel dalam pernyataannya menyebut jembatan itu sebagai “perlintasan kunci” yang digunakan Hizbullah untuk memperkuat posisi dan mempersiapkan pertempuran.

Kategori :