Situasi makin panas karena ancaman terhadap Netanyahu memang bukan hal yang sepenuhnya muncul dari ruang kosong.
BACA JUGA:Pegawai Senior HAM Gugat Menteri HAM Natalius Pigai, SK Mutasi Diduga Cacat Hukum
Sejumlah laporan menyebut Garda Revolusi Iran atau IRGC mengeluarkan pernyataan keras yang pada intinya mengancam akan terus memburu Netanyahu.
Ancaman semacam ini membuat rumor di media sosial terasa seolah masuk akal bagi sebagian orang, walau belum tentu benar.
Inilah kenapa kabar bohong sering cepat dipercaya saat situasi geopolitik sedang tegang.
Di sisi lain, Netanyahu justru memanfaatkan momen itu untuk membangun citra tenang di depan publik Israel.
Dalam pesannya, ia tak hanya membantah rumor, tetapi juga mengimbau warga agar tetap waspada, mendengarkan arahan otoritas pertahanan sipil, dan berada dekat tempat perlindungan.
BACA JUGA:Wajah Pelaku Terkuak! Komnas HAM Bongkar Dalang Penyerangan Andrie Yunus
Pesan seperti ini menunjukkan bahwa pemerintah Israel masih menempatkan ancaman keamanan sebagai persoalan nyata, bukan sekadar perang opini di media sosial.
Konflik yang melatarbelakangi rumor ini juga tidak kecil.
Reuters dan AP melaporkan perang Israel-Iran meningkat setelah serangan bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026, lalu diikuti serangan balasan Iran ke Israel, pangkalan militer AS, dan target lain di kawasan.
Laporan dari AP menyebut korban tewas telah menembus angka ribuan, sementara tekanan terhadap energi global dan keamanan regional ikut melonjak tajam.
Dalam konteks seperti itulah kabar palsu soal tokoh utama perang menjadi sangat berbahaya.
BACA JUGA:Nantikan, Bansos PKH dan BPNT 2026 Hampir Target, Cek Sekarang Status Penerima Pakai NIK KTP!
Rumor kematian seorang perdana menteri bisa memengaruhi psikologi publik, memicu kepanikan, bahkan dimanfaatkan sebagai alat propaganda.
Apalagi jika dibarengi konten visual yang tampak meyakinkan, seperti video pendek atau tangkapan layar yang sulit diverifikasi oleh pengguna biasa.