BACAKORAN.CO - Situasi geopolitik global kembali memanas setelah China menyerukan pentingnya menjaga jalur pelayaran tetap terbuka di Selat Hormuz.
Seruan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan usai kebijakan blokade yang diperintahkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, setelah gagalnya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Pemerintah China melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Guo Jiakun, menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan internasional, khususnya untuk distribusi minyak dan gas dunia.
Oleh karena itu, menjaga stabilitas dan kelancaran navigasi di kawasan tersebut menjadi kepentingan bersama komunitas global.
BACA JUGA:Judi Online Turun 50%, Komdigi–Polri Siapkan Langkah Hapus Total dalam Setahun!
China juga berharap agar konflik tidak kembali memanas, terutama setelah perundingan antara Washington dan Teheran yang berlangsung di Pakistan gagal mencapai kesepakatan.
Beijing mendorong semua pihak untuk menahan diri dan menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi.
Selat Hormuz sendiri memegang peranan krusial dalam rantai pasokan energi global.
Sebelum konflik memanas, jalur ini menjadi lintasan utama bagi sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia.
BACA JUGA:Info Loker Indomaret & Alfamart April 2026, Syarat Lengkap dan Cara Lamar, Wajib Pantengin!
Namun sejak perang antara AS, Israel, dan Iran pecah pada akhir Februari 2026, aktivitas pelayaran di kawasan ini mengalami pembatasan signifikan.
Menariknya, Iran masih memberikan akses terbatas bagi kapal-kapal dari negara sahabat seperti China untuk melintas.
Bahkan, muncul laporan yang menyebut Teheran mempertimbangkan penerapan tarif bagi kapal yang melewati jalur tersebut, meski belum ada konfirmasi resmi.
Ketegangan semakin meningkat setelah Donald Trump memerintahkan blokade terhadap Selat Hormuz.
BACA JUGA:Tak Habis-habis, Polres Lubuklinggau Kembali Tangkap Residivis Pengedar Narkoba