"Tapi tidak ada yang lebih menyakitkan dalam kejadian ini, ketika aku melihat dari teman-teman sejawat seprofesiku memanfaatkan moment 'jatuhnya aku sekarang' untuk menghakimiku bahkan merayakannya," ungkap Shindy.
Ia menutup curhatannya dengan mencoba berprasangka baik kepada Tuhan dan berterima kasih kepada akun bovithalim.
Namun, respons netizen di platform X justru sebaliknya.
BACA JUGA:Ada Dapur SPPG di Prabumulih yang 'Curi' Gas Rumah Tangga, PD Petro Prabu Ngaku Rugi Ratusan Juta
Banyak yang menganggap curhatan tersebut bukan sebagai ujian, melainkan teguran keras.
Melalui akun X BANDUNG FESS @BaseBDG yang diunggah 6 jam lalu, sebuah komentar tajam merangkum sentimen publik saat ini.
"Bisa-bisana nganggap kesalahan manehna ujian euy padahal mah teguran ngabully budak sakola wkwkwk Fix boikot, blacklist," tulis @BaseBDG.
Juri LCC MPR Justru Diduga Unggah Sindiran di Status WA
Kontroversi hasil Lomba Cerdas Cermat atau LCC MPR terus berlanjut dan kini memanas akibat ulah salah satu dewan juri bernama Indri Wahyuni.
Bukannya meredakan ketegangan, Indri justru diduga mengunggah status WhatsApp bernada arogan yang memamerkan harta sekaligus membela 1 sekolah secara sepihak.
Tindakan ini memicu reaksi keras publik karena seorang juri seharusnya menjaga netralitas dan tidak memperkeruh suasana dengan sentimen pribadi.
Berdasarkan informasi yang beredar dari media sosial X melalui akun Info Jateng @Jateng_Twit, terungkap sejumlah tangkapan layar status WhatsApp yang diduga kuat milik Indri Wahyuni.
Dalam unggahan tersebut, ia terlihat membela sekolah yang memenangkan lomba sekaligus menyinggung soal keadilan bagi sekolah terpencil.
Setelah publik ramai mempertanyakan hasil penilaian LCC MPR, kini sorotan justru mengarah kepada salah satu dewan juri, Indri Wahyuni. Sejumlah unggahan yang diduga berasal dari story WhatsApp pribadinya beredar luas di media sosial dan memicu polemik baru. pic.twitter.com/jqy5iYCYle
— Info Jateng (@Jateng_Twit) May 12, 2026
"They deserve the win and the explanation why they are still the winner of the game. Focusing on one school and neglecting justice for other is a part of the biggest ignorance that one could do," tulis Indri dalam statusnya.
Ia juga berdalih bahwa sekolah tersebut adalah sekolah jauh, terpencil, dan bekas wilayah konflik tahun 1999 sehingga siapapun yang maju mewakili provinsi harus dibanggakan.
Namun yang membuat amarah publik memuncak adalah unggahan status lainnya pada pukul 14.46.