Sikap dewan juri yang defensif, enggan menganulir kesalahan dan justru berlindung di balik otoritas mereka dinilai dapat memberikan dampak psikologis yang merugikan.
Hal ini berpotensi mematikan daya kritis siswa dan merusak esensi kompetisi yang seharusnya menjunjung tinggi sportivitas dan kebenaran akademis.
Komentar pedas dari warganet pun langsung membanjiri cuitan viral tersebut. Banyak yang merasa kecewa dengan sikap para pengambil keputusan di acara tersebut.
"Typical boomer, dia yang budeg tapi orang lain yang disalahin artikulasinya.. pantes generasi kita melempem, yang kritis begini malah disalah salahin, harusnya kalo udah tau keputusan juri salah ya gapapa anulir aja, minta maaf, ganti pertanyaannya," tulis akun @Abikabsyo88.
Kritikan lain juga menyoroti integritas acara kompetisi nasional tersebut.
"Yg menjawab bener malah di kurangi nilainya yg copy paste justru di benarkan , ini wajah negara +62 saat ini," tulis akun @sukabasabasi_.
Banyak pengguna media sosial yang merasa juri tidak mau mengakui kealpaannya.
"Jurinya sadar itu dia salah nilai, cuma malu mau mengakuinya. Belajar jujur coba pak," tulis akun @arooo511.
Bahkan ada warganet yang menyindir kejadian ini sebagai representasi dari masalah struktural.
"Yang budeg elu yang disalahin artikulasi, simulasi kondisi negara banget nih??" tulis akun @asyr....