Lebih lanjut, beliau merinci tahun kelulusan dari data yang ada di sistem kampus.
"Kalau nama berdua itu benar yang ada di database kami, itu alumni 18 dan 17. Tapi kan sekali lagi, kami perlu cek, benar niki dudu wonge (ini benar orangnya atau bukan)," katanya.
Skandal Riset Palsu Demi Travel Grant, Rifaldy dan Tim Akhirnya Mengaku
Dunia akademik kembali diguncang skandal memalukan terkait dugaan manipulasi riset pada konferensi internasional.
Sekelompok peneliti independen yang menamakan diri Rifaldy dan Tim akhirnya merilis surat permohonan maaf terbuka setelah terbukti menggunakan kecerdasan buatan secara berlebihan dan mencatut afiliasi tanpa izin demi mendapatkan travel grant.
Informasi ini mencuat dan menjadi perbincangan panas di media sosial X.
Berdasarkan pantauan dari akun X milik pengguna dengan nama mmm atau @tegnelll, terdapat sebuah unggahan yang membongkar langkah lanjutan dari kelompok tersebut.
Karena keterbatasan pada tangkapan layar, informasi mengenai tanggal pasti cuitan dan jumlah penayangan tidak tercantum secara spesifik, namun unggahan ini sukses mengungkap niat asli di balik partisipasi konferensi tim tersebut.
Unggahan dari @tegnelll di platform X menyebutkan bahwa dokumen surat ini merupakan upaya ke-2 dari kelompok tersebut setelah upaya permohonan maaf awal dinilai publik sebagai langkah cuci tangan.
"mereka melakukan klarifikasi yg kedua kalinya setelah klarifikasi pertama dihapus karna terkesan tdk mengakui kesalahan". Akun tersebut juga menyoroti kejanggalan lain dari kelompok ini yang merilis pernyataan lewat akun baru, dengan menyertakan kutipan alasan "karna akun sebelumnya di banned," tulisnya.
Mengacu pada dokumen surat permohonan maaf resmi sebanyak 3 halaman yang beredar luas dengan tanda air bertuliskan Rifaldy and Team, kelompok ini secara terang-terangan dan tertulis mengakui niat awal mereka yang jauh dari semangat ilmu pengetahuan.
Dalam dokumen tersebut, tertulis "Kami memohon maaf bahwa partisipasi kami dalam konferensi memang bertujuan untuk memperoleh travel grant sekaligus kesempatan untuk bepergian ke luar negeri."
Hal ini membenarkan kecurigaan banyak pihak bahwa partisipasi mereka di kancah internasional murni untuk mencari keuntungan finansial dan ajang jalan-jalan semata.
Skandal ini menjadi jauh lebih parah ketika dokumen permohonan maaf tersebut juga membongkar berbagai praktik tidak etis yang melanggar standar transparansi akademik dalam penyusunan karya ilmiah.
Rifaldy dan Tim mengakui adanya manipulasi data.