Riset yang mereka bawa diklaim tidak masuk akal karena mencakup lokasi pengumpulan data dari berbagai belahan dunia seperti dataran tinggi Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, hingga India utara.
Namun seluruh periset terpantau berasal dari Indonesia tanpa ada satupun kolaborator setempat dan tanpa keterangan persetujuan etik.
Institusi yang dicantumkan pun fiktif.
Pelaku menggunakan nama afiliasi AI-BioMedicine Research Group, IMCDS-BioMed Research Foundation, Jakarta, Indonesia yang ternyata tidak dapat ditemukan riwayat keberadaannya secara sah.
BACA JUGA:Syok! Pelanggan Temukan 2 Kali Anak Kecoak di Nasi Goreng di Resto Palembang, Netizen Tebak Solaria
Pengakuan Terkait Penggunaan Generasi Buatan
Akun mandharabrasika juga menceritakan momen saat ia mengonfrontasi langsung salah satu perwakilan tim bernama Prihantini.
Saat diminta menjelaskan grafik dan poster penelitiannya, yang bersangkutan kebingungan dan tidak bisa memberikan jawaban.
Prihantini justru membuat pengakuan mengejutkan bahwa seluruh abstrak mereka di "generate" oleh pemimpin kelompok mereka yang bernama Rifaldy Fajar.
Motif utama di balik tindakan curang ini diduga kuat untuk mendapatkan dana hibah perjalanan dari penyelenggara.
Dengan memenangkan penghargaan para oknum ini bisa berangkat ke luar negeri secara gratis.
Parahnya, bukti digital menunjukkan ini bukan kali pertama mereka beraksi.
Dokumentasi foto memperlihatkan mereka pernah mendapatkan penghargaan serupa pada konferensi di Taipei pada bulan September tahun 2025.
Mengapa Abstrak Palsu Bisa Lolos Seleksi Internasional
Pertanyaan teknis ini dijawab secara analitis oleh pengguna Instagram w.o.d.d dalam kolom komentar yang membalas pengguna udapinto_ pada 14 jam sebelumnya.
Terdapat 3 alasan utama yang menjadi celah keamanan sistem seleksi.
BACA JUGA:Viral SUV Jerman Porsche Macan Pakai Plat Merah TNI, Segini Taksiran Harga dan Pajaknya