Saham Murah di IHSG, Kapan Waktu Tepat Beli Sebelum Naik?
BACAKORAN.CO – Saham-saham berharga murah di pasar modal Indonesia kembali menjadi perhatian investor pada pertengahan 2026. Setelah mengalami fluktuasi akibat sentimen global dan domestik, sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperdagangkan pada valuasi yang dinilai lebih menarik dibandingkan rata-rata historisnya.
Namun, pertanyaan yang paling sering muncul adalah, kapan waktu yang tepat membeli saham murah di IHSG sebelum harganya kembali naik? Jawabannya tidak hanya bergantung pada harga yang terlihat murah, tetapi juga pada kondisi fundamental perusahaan, arah ekonomi, dan psikologi pasar.
Banyak investor pemula menganggap saham berharga rendah pasti akan memberikan keuntungan besar. Padahal, harga murah belum tentu berarti layak dibeli.
BACA JUGA:5 Saham Blue Chip Terbaik Semester II 2026, Cocok untuk Investasi Jangka Panjang
Sebaliknya, saham dengan harga yang sudah tinggi justru bisa terus menguat apabila didukung kinerja perusahaan yang solid.
Memahami Arti Saham Murah
Dalam dunia investasi, saham murah bukan hanya diukur dari nominal harga per lembar. Yang lebih penting adalah apakah harga tersebut masih berada di bawah nilai wajarnya (undervalued).
Investor profesional biasanya menggunakan beberapa indikator untuk menilai apakah suatu saham tergolong murah, antara lain:
- Price to Earnings Ratio (PER)
- Price to Book Value (PBV)
- Pertumbuhan laba perusahaan
- Arus kas (cash flow)
- Rasio utang
- Prospek bisnis jangka panjang
Jika valuasi perusahaan lebih rendah dibandingkan rata-rata sektor maupun historisnya, saham tersebut dapat dikategorikan menarik untuk dipertimbangkan.
IHSG Masih Dipengaruhi Sentimen Global
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2026 masih dipengaruhi sejumlah faktor eksternal, seperti kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), inflasi global, harga komoditas, serta perkembangan geopolitik.
Di sisi domestik, kebijakan suku bunga Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi nasional, stabilitas nilai tukar rupiah, hingga kinerja laporan keuangan emiten turut menentukan arah pasar saham.
Ketika sentimen negatif mereda, investor biasanya mulai kembali masuk ke pasar sehingga harga saham berpotensi mengalami pemulihan.
BACA JUGA:Saham PTRO Melejit 16% di Tengah Penguatan IHSG, Apa yang Terjadi?
Kapan Waktu Tepat Membeli?
Analis pasar modal umumnya menyarankan investor tidak mencoba menebak titik harga terendah (market timing).
Sebaliknya, pembelian dapat dilakukan secara bertahap melalui strategi Dollar Cost Averaging (DCA) atau investasi berkala.