BACAKORAN.CO - Tidak semua orang menyambut kebahagiaan dengan perasaan lega atau antusias. Bagi sebagian individu, momen yang seharusnya menyenangkan justru memunculkan kecemasan, rasa tidak nyaman, bahkan keinginan untuk menghindarinya.
Fenomena ini dikenal sebagai cherophobia, yaitu kondisi ketika seseorang memiliki ketakutan terhadap perasaan bahagia.
Meski belum dikategorikan sebagai gangguan mental tersendiri dalam pedoman diagnosis psikologi, cherophobia merupakan fenomena psikologis yang nyata dan dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang.
BACA JUGA:Orang Tua Wajib Tahu! 5 Kunci Parenting Positif untuk Masa Depan Anak
BACA JUGA:Gaji Rp4–7 Juta, Cara Menabung 25% Tanpa Ubah Gaya Hidup
Orang dengan kondisi ini biasanya percaya bahwa semakin besar kebahagiaan yang dirasakan, semakin besar pula kemungkinan datangnya kesialan atau peristiwa buruk setelahnya.
Pandangan tersebut sering kali terbentuk akibat pengalaman masa lalu.
Misalnya, seseorang pernah merasakan kebahagiaan yang kemudian disusul kehilangan, kegagalan, atau peristiwa traumatis.
Pengalaman tersebut secara tidak sadar membangun pola pikir bahwa kebahagiaan hanyalah awal dari penderitaan.
BACA JUGA:Kesalahan Beli Reksadana, Kenapa Investor Masih Rugi?
BACA JUGA:Sering Dipotong Saat Bicara? Bisa Jadi Anda Sedang Mengalami Mansplaining
Selain pengalaman pribadi, faktor budaya dan pola asuh juga dapat berperan.
Ada lingkungan yang mengajarkan bahwa terlalu bahagia dianggap berlebihan, dapat mengundang iri hati, atau bahkan membawa nasib buruk.
Keyakinan semacam ini akhirnya tertanam hingga dewasa.
Seseorang yang mengalami cherophobia umumnya menunjukkan beberapa tanda.
BACA JUGA:Rumah Makin Mahal, Mimpi Punya Hunian dengan Gaji Rp5 Juta Masih Masuk Akal?
Mereka cenderung menolak undangan pesta atau perayaan, enggan mencoba pengalaman baru yang menyenangkan, menghindari hubungan yang berpotensi membawa kebahagiaan, hingga merasa bersalah ketika sedang menikmati hidup.
Bahkan, ada yang sengaja membatasi pencapaian diri karena takut jika keberhasilan akan diikuti kegagalan yang lebih besar.
Perilaku tersebut sering kali disalahartikan sebagai sifat pendiam atau tidak suka bersosialisasi.
BACA JUGA:Musim Panas Makin Ganas! Begini Cara Menjaga Kesehatan agar Tetap Fit Meski Cuaca Terik
BACA JUGA:Tak Cuma Jalan Kaki, 3 Kebiasaan Sederhana Ini Ampuh Bantu Turunkan Hipertensi Secara Alami
Padahal, di balik sikap tersebut terdapat kecemasan yang cukup kuat terhadap kemungkinan kehilangan kebahagiaan yang sedang dirasakan.
Cherophobia juga dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan.
Dalam hubungan sosial, seseorang mungkin kesulitan membangun kedekatan dengan orang lain karena takut kecewa.
Dalam dunia kerja, mereka bisa kehilangan kesempatan berkembang akibat menghindari tantangan atau promosi.
BACA JUGA:Saham Murah di IHSG, Kapan Waktu Tepat Beli Sebelum Naik?
BACA JUGA:Bikin Soto Ayam Lamongan Rasa Bintang Lima? Ini Resep Rahasia Devina Hermawan Kuah Gurih Bikin Nagih
Sementara itu, dari sisi kesehatan mental, kondisi ini berpotensi meningkatkan stres berkepanjangan dan menurunkan kepuasan hidup.
Mengatasi cherophobia bukan berarti memaksa diri untuk selalu merasa bahagia.
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mengenali pola pikir negatif yang muncul setiap kali mengalami momen menyenangkan.
BACA JUGA:Mengenal Band Rumahsakit, Grup Musik yang Mengubah Wajah Indie Rock Tanah Air
BACA JUGA:Kesurupan Bukan Selalu Ulah Gaib, Ini Fakta Medis yang Perlu Diketahui
Dengan menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu berakhir dengan hal buruk, seseorang dapat mulai membangun cara pandang yang lebih seimbang.
Latihan mindfulness, menulis jurnal rasa syukur, hingga berbicara dengan orang terpercaya juga dapat membantu mengurangi kecemasan.
Apabila rasa takut sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog menjadi pilihan yang tepat.
BACA JUGA:RAM 8 GB Masih Cukup untuk HP di 2026? Jangan Salah Pilih Sebelum Beli
Terapi psikologis dapat membantu menemukan akar ketakutan sekaligus mengubah pola pikir yang kurang adaptif.
Penting dipahami bahwa kebahagiaan merupakan bagian alami dari kehidupan.
Sama seperti kesedihan, kebahagiaan datang dan pergi sebagai bagian dari pengalaman manusia.
Menghindari kebahagiaan bukanlah cara untuk mencegah rasa sakit di masa depan, melainkan dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan menikmati berbagai momen berharga.
BACA JUGA:Investasi Aman 2026: Aset Tahan Krisis yang Bisa Berlipat Ganda
Dengan mengenali cherophobia sejak dini, masyarakat diharapkan lebih memahami bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam merespons emosi.
Alih-alih menghakimi mereka yang tampak enggan menikmati hidup, memberikan dukungan dan ruang untuk bercerita menjadi langkah yang jauh lebih berarti.
Pada akhirnya, menerima bahwa kebahagiaan dan kesedihan dapat berjalan berdampingan adalah salah satu bentuk kedewasaan emosional yang penting untuk dimiliki.