Pelemahan dolar AS secara global secara teori dapat memberikan ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Namun, rupiah tidak otomatis menguat hanya karena dolar melemah.
Investor tetap akan melihat kondisi ekonomi Indonesia, arus modal asing, kebijakan Bank Indonesia, imbal hasil aset rupiah, serta perkembangan ekonomi global.
Jika sentimen terhadap dolar memburuk dan investor meningkatkan eksposur ke pasar negara berkembang, rupiah berpotensi mendapatkan aliran dana.
Sebaliknya, jika ketidakpastian geopolitik meningkat tajam, investor dapat kembali mencari aset aman sehingga tekanan terhadap mata uang emerging market tetap terbuka.
Emas Bisa Kembali Menjadi Primadona
Salah satu aset yang berpotensi mendapatkan keuntungan dari ketidakpastian tersebut adalah emas.
Emas tidak bergantung pada kebijakan satu negara dan sering digunakan investor sebagai instrumen diversifikasi ketika risiko geopolitik serta fiskal meningkat.
Jika dolar terus melemah dan ekspektasi suku bunga AS menurun, kombinasi tersebut dapat menjadi katalis bagi harga emas.
Namun, investor tetap perlu memperhatikan volatilitas karena harga emas juga dipengaruhi imbal hasil obligasi AS dan ekspektasi suku bunga.
BACA JUGA:Harga Kopi Robusta Lampung Pertengahan Agustus 2026: Simak Prediksi Pergerakan Pasar Global Terkini
Apa yang Harus Diperhatikan Investor?
Ada beberapa indikator yang layak dipantau dalam beberapa hari ke depan:
- Pidato pejabat The Fed mengenai arah suku bunga.
- Kebijakan Bank of Japan dan potensi intervensi yen.
- Perkembangan hubungan AS-Iran.
- Harga minyak dunia.
- Pergerakan imbal hasil Treasury AS.
- Arus modal asing ke pasar emerging market.
- Pergerakan indeks dolar AS (DXY).
Pergerakan indikator tersebut dapat menentukan apakah tekanan terhadap dolar hanya bersifat sementara atau menjadi tren yang lebih panjang.
Dolar AS Belum Kehilangan Statusnya
Meski berada dalam tekanan, pelemahan dolar tidak berarti mata uang AS kehilangan dominasinya.
Dolar masih menjadi mata uang utama dalam perdagangan global dan pasar keuangan internasional.
Yang berubah adalah tingkat kepercayaan dan preferensi investor terhadap aset berbasis dolar.
Kekhawatiran mengenai utang, geopolitik, dan arah suku bunga membuat investor semakin aktif melakukan diversifikasi.