BACAKORAN.CO – Dolar Amerika Serikat (USD) kembali menguat terhadap sejumlah mata uang utama setelah data inflasi AS memperbesar ekspektasi pasar bahwa The Federal Reserve (The Fed) berpotensi menaikkan suku bunga pada akhir 2026.
Perhatian investor kini beralih ke Simposium Jackson Hole yang dimulai Jumat. Sementara itu, rupiah masih menghadapi tekanan akibat sentimen domestik dan meningkatnya kekhawatiran menjelang aksi demonstrasi besar.
Inflasi AS Bikin Dolar Kembali Perkasa
Rilis data inflasi Amerika Serikat menjadi pemicu utama penguatan dolar.
Data tersebut kembali mendorong ekspektasi bahwa The Fed belum selesai dengan kebijakan pengetatan moneternya.
Jika tekanan inflasi tetap bertahan, ruang bagi bank sentral AS untuk mempertahankan atau menaikkan suku bunga akan semakin terbuka.
Ekspektasi tersebut biasanya memberikan dukungan bagi USD.
Pasalnya, suku bunga AS yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar. Investor pun kembali mencermati arah kebijakan The Fed hingga akhir tahun.
BACA JUGA:Dolar AS Melemah Usai Inflasi Turun, Rupiah Berpeluang Menguat di Tengah Outlook Stabil Indonesia
Jackson Hole Jadi Pusat Perhatian Pasar
Pasar global akan mengarahkan perhatian ke Simposium Jackson Hole yang dimulai Jumat.
Ajang tahunan tersebut menjadi salah satu forum penting untuk membaca arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Tahun ini, perhatian semakin besar karena Kevin Warsh dijadwalkan menyampaikan pidatonya untuk pertama kali sebagai Gubernur The Fed.
Investor akan mencermati pandangan Warsh mengenai inflasi, pertumbuhan ekonomi, pasar tenaga kerja, dan arah suku bunga.
Pidato tersebut juga menjadi penting setelah muncul kritik mengenai kurang jelasnya pandangan kebijakan terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Setiap perubahan nada dalam pernyataan Gubernur The Fed berpotensi memicu pergerakan tajam pada dolar, obligasi, maupun pasar saham.