Perubahan pola tidur dan nafsu makan juga dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan.
Selain itu, anak dapat mengeluhkan kelelahan, sulit berkonsentrasi, merasa tidak berharga, bersalah secara berlebihan, atau menunjukkan penurunan prestasi di sekolah.
BACA JUGA:Self-Care Bukan Lagi Kemewahan, Ini Cara Sederhana Merawat Diri
Jangan Langsung Menganggap Anak Hanya Sedang Berubah
Salah satu tantangan dalam mengenali masalah kesehatan mental pada anak adalah anggapan bahwa perubahan emosi merupakan bagian dari pertumbuhan.
Memang, tidak setiap anak yang murung atau mudah marah mengalami depresi.
Namun, orang tua perlu melihat perubahan tersebut secara menyeluruh.
Perhatikan apakah kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, semakin sering terjadi, dan mengganggu kehidupan anak di rumah, sekolah, maupun lingkungan pertemanan.
Pendekatan yang terlalu menghakimi juga dapat membuat anak semakin tertutup.
Kalimat seperti “kamu kurang bersyukur” atau “jangan terlalu dipikirkan” mungkin justru membuat anak merasa tidak dipahami.
Sebaliknya, orang tua dapat membuka ruang komunikasi dengan cara yang tenang.
Dengarkan cerita anak tanpa langsung memberikan penilaian atau menyalahkan.
Pertanyaan sederhana seperti bagaimana perasaannya hari itu dapat menjadi awal percakapan.
Media Sosial dan Tekanan Lingkungan
Perkembangan teknologi juga membuat kehidupan sosial anak dan remaja semakin kompleks.