Media sosial dapat menjadi sarana berkomunikasi dan mendapatkan informasi, tetapi dalam kondisi tertentu juga dapat menjadi sumber tekanan.
Perbandingan dengan kehidupan orang lain, komentar negatif, perundungan daring atau tekanan untuk mengikuti tren tertentu dapat memengaruhi rasa percaya diri.
Di sisi lain, masalah di sekolah, konflik pertemanan, tekanan akademik maupun persoalan keluarga juga dapat memengaruhi kondisi emosional.
Karena itu, perhatian terhadap kesehatan mental anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah atau tenaga profesional.
Lingkungan keluarga memiliki peran penting dalam menciptakan suasana yang aman bagi anak untuk bercerita.
BACA JUGA:Xiaomi Smart Band 9 Resmi Hadir: Baterai 21 Hari, Layar AMOLED, Fitur Kesehatan Lengkap
Dukungan Sejak Dini Sangat Penting
Ketika perubahan perilaku terlihat semakin mengganggu aktivitas sehari-hari, orang tua sebaiknya tidak menunggu hingga kondisi menjadi lebih berat.
Konsultasi dengan psikolog, psikiater, dokter, konselor sekolah, atau tenaga kesehatan yang kompeten dapat menjadi langkah untuk memahami kondisi anak dengan lebih tepat.
Orang tua juga perlu menghindari diagnosis sendiri berdasarkan informasi yang ditemukan di internet.
Gejala tertentu dapat muncul karena berbagai kondisi, sehingga diperlukan penilaian profesional untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang sesuai.
Selain mencari bantuan profesional, dukungan sehari-hari tetap penting.
Anak membutuhkan lingkungan yang membuatnya merasa didengar, dihargai, dan tidak sendirian dalam menghadapi masalah.
Kesehatan mental juga dapat dijaga melalui rutinitas yang sehat, seperti tidur cukup, aktivitas fisik, pola makan yang baik, waktu bersama keluarga, serta kesempatan untuk melakukan kegiatan yang disukai.
Pada akhirnya, mengenali gejala depresi bukan berarti memberi label kepada anak.
Langkah tersebut justru menjadi bentuk kepedulian agar perubahan yang terjadi tidak diabaikan.