BACAKORAN.CO - Nilai tukar rupiah bertahan di kisaran Rp17.650 per dolar AS selama dua hari berturut-turut. Pasar kembali mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini setelah muncul komentar dovish dari sejumlah pejabat bank sentral AS.
Pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan AS atau Nonfarm Payrolls (NFP) menjadi perhatian utama pasar setelah menunjukkan lonjakan yang mengejutkan pada akhir pekan lalu.
BACA JUGA: USD Melemah, Rupiah Tembus Level Terkuat 15 Minggu di 17.600! JPY Menguat Tajam
Mengapa Rupiah Bertahan di Rp17.650 per Dolar AS?
Rupiah mampu mempertahankan level Rp17.650-an setelah dolar AS kembali melemah terhadap sejumlah mata uang utama.
Pelemahan dolar terjadi ketika pelaku pasar mulai mengurangi perkiraan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed dalam pertemuan bulan ini.
Sebelumnya, lonjakan data NFP AS sempat memperkuat argumen bahwa bank sentral Amerika Serikat masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga.
Namun, kenaikan tersebut belum menjadi kepastian.
Pasar kini menunggu pernyataan dan indikator ekonomi berikutnya untuk menentukan arah kebijakan The Fed.
Bagaimana Tekanan Donald Trump terhadap The Fed?
Presiden AS Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap The Fed agar menurunkan suku bunga.
Trump bahkan mengancam akan memutuskan hubungan perdagangan dengan negara-negara tertentu yang mencatat surplus perdagangan terhadap Amerika Serikat.
Tekanan tersebut menambah kompleksitas bagi kebijakan moneter AS.
The Fed harus mempertimbangkan kondisi inflasi dan pasar tenaga kerja. Di sisi lain, tekanan politik juga menjadi perhatian pasar keuangan.
BACA JUGA:Dolar AS Menguat, Rupiah Bertahan di Rp17.730 per USD
Mengapa Harga Minyak Menjadi Perhatian Pasar?
Sekretaris Tresuri AS Scott Bessent memperkirakan harga minyak dunia berpotensi turun tajam.
Menurut Bessent, harga minyak dapat meluncur hingga sekitar USD40 per barel setelah konflik Iran berakhir.
Harga minyak saat ini masih berada jauh di atas level tersebut.
Data yang dipantau menunjukkan harga crude oil berada di sekitar USD92,02 per barel.
Jika harga minyak benar-benar turun signifikan, dampaknya dapat terasa terhadap inflasi global.
Penurunan harga energi berpotensi mengurangi tekanan inflasi. Kondisi tersebut kemudian dapat memberikan ruang lebih besar bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Apa Dampak Suntikan Dana China ke Ekonomi?
China juga menjadi perhatian investor global.
Beijing telah menginjeksi dana dalam jumlah besar kepada bank-bank dan perusahaan asuransi terbesar di negara tersebut.
Langkah itu dilakukan untuk memperkuat neraca berjalan sekaligus menjaga ketahanan pertumbuhan ekonomi.
China saat ini menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Penguatan sektor keuangan diharapkan mampu menjaga kemampuan pembiayaan serta mendukung aktivitas ekonomi domestik.
Kebijakan China tersebut berpotensi memengaruhi sentimen terhadap mata uang dan komoditas Asia.
Bagaimana Posisi Rupiah dan Mata Uang Asing?
Berikut kurs valuta asing berdasarkan data bank yang tersedia:
| Mata Uang | Bank Buy | Bank Sell |
|---|---|---|
| USD | Rp17.615 | Rp17.685 |
| SGD | Rp13.886 | Rp13.985 |
| HKD | Rp2.243,74 | Rp2.258,37 |
| CHF | Rp21.720 | Rp21.885 |
| JPY | Rp112,72 | Rp113,65 |
| CAD | Rp12.716 | Rp12.806 |
| CNY | Rp2.616,66 | Rp2.647,75 |
| THB | Rp532,82 | Rp541,00 |
| SAR | Rp4.684,62 | Rp4.715,92 |
| KRW | Rp13,07 | Rp13,51 |
| MYR | Rp4.341,76 | Rp4.386,22 |
| GBP | Rp23.780 | Rp23.948 |
| AUD | Rp12.672 | Rp12.771 |
| NZD | Rp10.337 | Rp10.421 |
| EUR | Rp20.433 | Rp20.580 |