Self-Reward Gen Z, Makanan Favorit Jadi Pilihan Utama

Senin 14 Sep 2026 - 02:00 WIB
Reporter : Wira
Editor : djarwo

BACA JUGA:6 Kebiasaan Orang Cerdas di Pagi Hari, Bikin Hari Lebih Produktif

Transaksi Digital Memudahkan Self-Reward

Riset tersebut juga menemukan adanya pengaruh kemudahan transaksi digital terhadap perilaku self-reward. 

Kehadiran mobile banking, QRIS, dompet digital, serta berbagai layanan pembayaran membuat transaksi dapat dilakukan dengan cepat.

Di sisi lain, media sosial juga menghadirkan berbagai konten komersial yang berpotensi mendorong keputusan konsumsi.

Konten rekomendasi produk, tren makanan dan minuman, promosi, diskon, hingga gaya hidup dapat membuat keinginan membeli muncul secara spontan.

Kondisi tersebut membuat self-reward semakin mudah dilakukan. 

Ketika seseorang sedang lelah atau membutuhkan hiburan, akses transaksi yang cepat dapat membuat keputusan membeli sesuatu terjadi tanpa banyak pertimbangan.

Menurut Anggita, kondisi ini menunjukkan bahwa literasi keuangan saja belum tentu cukup untuk mencegah pembelian impulsif.

Seseorang bisa memahami pentingnya membuat anggaran, menabung, serta membedakan kebutuhan dan keinginan, tetapi tetap dapat terdorong mencari kepuasan secara cepat.

“Literasi keuangan memberi dasar bagi seseorang untuk memahami konsekuensi dari keputusan finansial, tetapi dalam praktiknya kita juga perlu melihat bagaimana seseorang mengendalikan dorongan ketika ada keinginan untuk mendapatkan kepuasan secara langsung,” jelasnya.

BACA JUGA:Begadang Bukan Kebiasaan Sepele, Kesehatan Bisa Jadi Taruhannya

Self-Reward Bisa Berubah Jadi Perilaku Konsumtif

Self-reward pada dasarnya tidak selalu menjadi persoalan selama dilakukan secara terukur. 

Masalah dapat muncul ketika pembelian dilakukan berulang kali dengan alasan meredakan stres, lelah, bosan, atau sebagai kompensasi setelah menjalani aktivitas tertentu.

Jika pola tersebut terus berlangsung, self-reward berpotensi berubah menjadi kebiasaan konsumtif.

Kepuasan sesaat dari transaksi kemudian dapat membuat seseorang kembali mencari pengalaman serupa ketika menghadapi tekanan emosional berikutnya.

Karena itu, batas antara apresiasi diri dan perilaku konsumtif perlu dilihat dari kemampuan seseorang mempertimbangkan kondisi finansial serta kebutuhan di masa depan. Self-reward tidak harus selalu berbentuk transaksi atau pembelian barang.

Kategori :