Dolar AS Perkasa, Rupiah Tertekan! Kurs Hari Ini 24 Juni 2026 Dekati Rp18.000, Investor Waspada
Dolar AS Perkasa, Rupiah Tertekan! Kurs Hari Ini 24 Juni 2026 Dekati Rp18.000, Investor Waspada.gbr.net--
BACAKORAN.CO – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu, 24 Juni 2026. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang mencapai level tertinggi sejak November lalu membuat mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, menghadapi tekanan yang cukup besar.
Berdasarkan data kurs perbankan, dolar AS berada pada kisaran Rp17.845 untuk kurs beli dan Rp17.935 untuk kurs jual. Posisi tersebut semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS yang menjadi perhatian pelaku pasar dalam beberapa pekan terakhir.
Sentimen utama yang mendorong penguatan dolar berasal dari ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed masih berpotensi mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini.
BACA JUGA:Dolar AS Cetak Rekor Tertinggi Setahun, Rupiah Tertekan! Ini Faktor yang Menggerakkan Pasar Global
Kurs Dolar AS Hari Ini Menguat, Rupiah Kembali Tertekan
Penguatan dolar terjadi hampir terhadap seluruh mata uang utama dunia. Investor global masih memburu aset berdenominasi dolar karena dinilai lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi internasional.
Di pasar regional Asia, mata uang Jepang menjadi sorotan setelah yen menyentuh level terlemah sejak 1986. Kondisi tersebut meningkatkan spekulasi bahwa otoritas Jepang dapat melakukan intervensi untuk menahan pelemahan mata uang mereka.
Selain faktor eksternal, pasar juga mencermati perkembangan ekonomi domestik yang memengaruhi arus modal asing ke Indonesia.
MSCI Tunda Penilaian Pasar Saham Indonesia
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada keputusan MSCI Inc. yang kembali menunda evaluasi terhadap pasar modal Indonesia.
MSCI menyatakan masih memerlukan waktu tambahan untuk menilai efektivitas berbagai langkah transparansi yang sebelumnya telah diterapkan di Bursa Efek Indonesia.
Keputusan tersebut membuat sebagian investor asing memilih bersikap hati-hati terhadap aset berisiko di Indonesia, termasuk saham dan obligasi.
Situasi ini turut memberikan tekanan tambahan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.