Kurs Dolar Hari Ini 8 Oktober 2026: USD Menguat, Rupiah Tertekan
Kurs Dolar Hari Ini 8 Oktober 2026: USD Menguat, Rupiah Tertekan--bacakoran--
BACAKORAN.CO – Kurs dolar Amerika Serikat (USD) menguat terhadap sejumlah mata uang pada perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026. Penguatan dolar terjadi ketika ketegangan di Timur Tengah mendorong investor mencari aset safe haven. Kenaikan harga minyak dan kekhawatiran inflasi juga menjadi perhatian pasar setelah publikasi notulen Federal Open Market Committee (FOMC).
Ketegangan geopolitik kembali menjadi salah satu penggerak utama pasar valuta asing.
Investor cenderung meningkatkan permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman ketika risiko global meningkat.
BACA JUGA:Kurs Dolar Hari Ini 6 Oktober 2026: USD Dekati Level Terkuat, Rupiah Tertekan
FOMC Minutes Soroti Risiko Inflasi
Notulen rapat FOMC menunjukkan sejumlah pejabat Federal Reserve masih mengkhawatirkan risiko inflasi.
Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor yang mendapat perhatian.
Permintaan yang berkaitan dengan investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence juga dinilai berpotensi memberikan tekanan terhadap harga.
Menurut notulen tersebut, sejumlah pejabat melihat risiko kenaikan harga energi dan permintaan investasi AI dapat berkembang menjadi inflasi yang lebih luas.
Kondisi itu membuat pasar kembali mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed.
Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember sekitar 83 persen.
Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada Oktober berada jauh lebih rendah, sekitar 19 persen.
Perbedaan ekspektasi tersebut membuat pelaku pasar tetap memperhatikan setiap data ekonomi Amerika Serikat.
Data inflasi, tenaga kerja, harga energi, dan pernyataan pejabat The Fed dapat mengubah ekspektasi tersebut.
BACA JUGA:Rupiah di Rp17.995 per Dolar, Pasar Cermati Sinyal Fed dan BoJ
EUR Tertekan di Tengah Kenaikan Harga Minyak
Euro atau EUR juga mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat.
EUR sempat melemah di bawah level 1,12 per USD.
Level tersebut mendekati titik terlemah dalam 17 bulan terakhir. EUR sebelumnya sempat menyentuh 1,116 per USD pada awal pekan.
Tekanan terhadap euro datang ketika harga minyak kembali meningkat.
Kondisi fiskal di kawasan Eropa juga masih menjadi perhatian pasar.
Kenaikan harga energi dapat memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kebijakan bank sentral.
Harga minyak kembali naik setelah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Iran dilaporkan meningkatkan serangan terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur penting dalam perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran pasokan minyak.
Kenaikan harga minyak juga membuat pasar memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Pasar memperkirakan kenaikan suku bunga sekitar 0,75 persen oleh European Central Bank atau ECB pada akhir tahun depan.
Untuk The Fed, pasar memperkirakan kenaikan sekitar 0,85 persen pada periode yang sama.
Angka tersebut merupakan ekspektasi pasar dan masih dapat berubah mengikuti perkembangan ekonomi global.
BACA JUGA:Kurs Rupiah Hari Ini Tertekan, Dolar AS Menguat Jelang FOMC dan Harga Minyak Naik
Cadangan Devisa Indonesia Turun Tipis
Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia tercatat sedikit menurun pada September.
Cadangan devisa berada di sekitar USD146,3 miliar pada September. Angka tersebut turun dari USD146,5 miliar pada bulan sebelumnya.
Bank Indonesia menyebut pergerakan cadangan devisa dipengaruhi sejumlah transaksi pemerintah dan kebijakan stabilisasi rupiah.
Penurunan tersebut antara lain berkaitan dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo.
Bank Indonesia juga melakukan langkah stabilisasi rupiah ketika ketidakpastian pasar keuangan global masih berlangsung.
Pergerakan dolar global dan harga minyak menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan pasar domestik.
Tekanan eksternal dapat memengaruhi nilai tukar rupiah melalui arus modal dan permintaan valuta asing.
BACA JUGA:Dolar AS Menguat, Rupiah Bertahan di Rp17.730 per USD
Kurs Dolar dan Mata Uang Asing Hari Ini
Berikut kurs yang tercatat dalam data perdagangan bank untuk 8 Oktober 2026:
| Mata Uang | Bank Buy | Bank Sell |
|---|---|---|
| USD | Rp17.850 | Rp17.920 |
| SGD | Rp13.929 | Rp14.027 |
| HKD | Rp2.271,91 | Rp2.286,45 |
| CHF | Rp21.389 | Rp21.550 |
| JPY | Rp112,84 | Rp113,76 |
| CAD | Rp12.496 | Rp12.582 |
| CNY | Rp2.655,01 | Rp2.685,50 |
| THB | Rp527,92 | Rp535,68 |
| SAR | Rp4.748,33 | Rp4.779,53 |
| KRW | Rp13,22 | Rp13,66 |
| MYR | Rp4.357,81 | Rp4.396,52 |
| GBP | Rp23.541 | Rp23.706 |
| AUD | Rp12.395 | Rp12.492 |
| NZD | Rp9.972 | Rp10.052 |
| EUR | Rp19.957 | Rp20.100 |
Data kurs dapat berbeda antarbank dan berubah sepanjang hari mengikuti kondisi pasar valuta asing.
Untuk perbandingan pasar valuta asing, data yang tersedia juga menunjukkan beberapa nilai tukar sebagai berikut:
| Mata Uang | Nilai 1 | Nilai 2 |
|---|---|---|
| SGD | 1,2801 | 1,2790 |
| HKD | 7,8480 | 7,8462 |
| CHF | 0,8335 | 0,8324 |
| JPY | 157,99 | 157,68 |
| CAD | 1,4269 | 1,4258 |
| CNY | 6,7161 | 6,6807 |
| THB | 33,7710 | 33,4870 |
| SAR | 3,7550 | 3,7535 |
| KRW | 1.348,14 | 1.312,85 |
| MYR | 4,0915 | 4,0805 |
| GBP | 1,3203 | 1,3214 |
| AUD | 0,6952 | 0,6962 |
| NZD | 0,5593 | 0,5603 |
| EUR | 1,1194 | 1,1204 |