BACAKORAN.CO - Muara Angke kembali menjadi sorotan.
Setelah berhari-hari dikepung banjir rob yang nyaris menjadi tamu tetap, kini warga harus menghadapi babak baru: jalanan yang berubah menjadi lautan lumpur.
Genangan air memang mulai surut, tetapi meninggalkan jejak pekat berupa lumpur tebal yang menutup akses utama warga.
Aktivitas terganggu, kendaraan mogok, dan harapan akan perbaikan pun kembali diuji.
BACA JUGA:Penjaringan Terendam Lagi! Banjir Rob Capai 85 cm, Aktivitas Warga Lumpuh
BACA JUGA:Darurat Cuaca Ekstrem! Banjir dan Longsor Luluhlantakkan Ambon
Ironisnya, proyek peninggian jalan yang sempat digadang-gadang sebagai solusi justru rusak sebelum sempat rampung.
Fenomena ini bukan sekadar bencana alam, tapi potret nyata dari krisis infrastruktur dan ketahanan lingkungan di kawasan pesisir Jakarta.
Di tengah janji pembangunan tanggul dan harapan akan masa depan yang lebih kering, warga Muara Angke justru harus bertahan dengan sepatu bot dan semangat yang tak kunjung padam.
Dari Air ke Lumpur: Derita Tak Berujung
BACA JUGA:Balikpapan Lumpuh Dikepung Banjir: Pertokoan dan Rumah Sakit Tergenang Air
BACA JUGA:Jakarta Terendam! Banjir Parah Buat Sejumlah Kendaraan Mogok di Tengah Jalan
Pada akhir Juni 2025, banjir rob yang sempat merendam kawasan ini mulai surut.
Namun, alih-alih membawa kelegaan, surutnya air justru menyisakan lumpur setinggi 60 sentimeter di beberapa titik, terutama di Jalan Mandala Bahari, kawasan Pengadogan.
Lumpur ini bukan hanya mengganggu mobilitas, tetapi juga merusak jalan yang baru saja dicor oleh pemerintah provinsi.
Warga terpaksa mendorong motor mereka melewati jalanan licin dan becek.