Viral Rombongan Jubah Putih di Puncak Lawu Gegerkan Pendaki, Polisi dan Perhutani Bongkar Fakta Sebenarnya!

Selasa 15 Jul 2025 - 07:47 WIB
Reporter : Yudha IP
Editor : Yudha IP

Lebih lanjut, Mulyadi menegaskan bahwa kelompok tersebut bukan bagian dari aliran sesat.

Menurutnya, kegiatan yang dilakukan adalah bentuk ziarah ke Sunan Gunung Lawu dan termasuk dalam ajaran Nahdlatul Ulama (NU).

“Mereka dari kelompok Nahdlatul Ulama. Kegiatan ini mereka lakukan setiap tahun di puncak Gunung Lawu dengan maksud ziarah, untuk menghormati Sunan Gunung Lawu,” ujarnya seperti dikutip dari Kompas.com.

BACA JUGA:AWAS Sudah Ada di Indonesia Ini Ciri-ciri Anggota Sekte Satanic di Indonesia

BACA JUGA:Kebakaran Pondok Pesantren Al-Inayah Gunungsindur: Korsleting Listrik Hanguskan 3 Kamar Santri

Menurut keterangan perwakilan kelompok, bacaan-bacaan yang diucapkan merupakan tawasul dan tidak keluar dari ajaran Islam.

Ritual tersebut dilakukan menjelang Salat Jumat, dengan peserta yang mengenakan pakaian putih seperti jubah, sorban, dan mukena.

“Mereka naik hari Kamis pagi, kemudian berkemah di atas. Hari Jumat menjelang Salat Jumat mereka melakukan acara itu. Pakaian putih tidak dikenakan dari bawah,” imbuh Mulyadi, mempertegas bahwa tidak ada unsur mencurigakan dari penampilan mereka.

Netizen Heboh, Pendaki Bingung

Meski sudah dikonfirmasi bukan kegiatan sesat, momen rombongan berpakaian putih ini tetap menjadi perhatian luas.

BACA JUGA:Pilu, Kisah Jenazah ASN Dibonceng Sepeda Motor di Lereng Gunung Donggala!

BACA JUGA:Bandara Komodo Masih Tertutup, Gunung Lewotobi Erupsi Dahsyat!

Banyak pendaki yang merasa terheran-heran, sebagian memilih diam dan mengamati, sementara yang lain tak tahan untuk membagikan momen tersebut ke media sosial.

“Saya pikir semacam komunitas spiritual, ternyata bagian dari kegiatan ziarah,” ujar salah satu pendaki yang merekam video itu.

Kepala BPBD Karanganyar, Hendro Prayitno, juga membenarkan lokasi kejadian.

Namun, hingga Senin sore, pihaknya masih menelusuri asal-usul dan struktur kelompok tersebut secara lebih detail, seperti dikutip dari Harianjogja.com.

Fenomena viral ini sekali lagi menunjukkan betapa cepatnya asumsi publik terbentuk dari visual yang viral tanpa informasi utuh.

Kategori :