Terkait status para mahasiswa yang terlibat, pihak BEM FH UI menyatakan bahwa kasus ini sudah terang benderang dan tidak membutuhkan banyak spekulasi.
"Untuk permohonan maaf itu disampaikan oleh 16 pelaku. Dan untuk statusnya, mereka semua mengakui perbuatan mereka," ungkap Dimas.
Ia juga menambahkan pernyataan yang sangat tegas mengenai posisi ke-16 orang tersebut di mata organisasi kemahasiswaan, "Jadi sebenarnya bagi kita sudah ada pengakuan mereka, mereka adalah pelaku, bukan lagi terduga pelaku."
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, sebuah sidang terbuka digelar di Auditorium FH UI hingga Selasa (14/4/2026) dini hari.
Menariknya, forum ini tidak datang dari inisiatif birokrat kampus semata, melainkan dari keberanian para penyintas. "Untuk yang menginisiasi forum adalah dari pihak korban dengan persetujuan fakultas yang menginginkan adanya penyampaian permintaan maaf secara langsung dan terbuka," jelas Dimas.
Dalam pelaksanaannya, ketegangan emosional tentu tidak bisa dihindari.
Bagi kamu yang mengikuti cuplikan kasus ini di berbagai platform media sosial, suasana auditorium terdengar sangat riuh oleh sorakan kekecewaan warga fakultas.
"Pastinya terdapat kekecewaan maupun keresahan yang dilontarkan mahasiswa lainnya pun korban juga kepada para pelaku dan itu merupakan bentuk ekspresi," kata Dimas mengonfirmasi situasi persidangan malam itu.
Mediasi Alot dan Ancaman Sanksi Akademik
Fakta mengejutkan lainnya dari sidang terbuka pelecehan seksual FH UI ini adalah ketidakhadiran mayoritas pelaku pada awal acara.
Semula, hanya dua orang dari 16 mahasiswa FH UI yang berani menampakkan diri.
BACA JUGA:Bayi Baru Lahir Dibuang di Semak-semak di Tepi Jalan, Ditemukan Tetesan Darah di Aspal
Ke-14 pelaku lainnya baru bersedia turun gelanggang setelah Ketua BEM FH UI turun tangan melakukan mediasi langsung dengan orang tua mereka.
"Pada akhirnya keempat belas pelaku lainnya berkenan untuk turun setelah saya melakukan dialog dengan orang tua mereka yang utamanya adalah menjamin keamanan mereka ketika menyampaikan permohonan maaf dan menegaskan kembali tujuan forum tersebut," terang Dimas menceritakan alotnya proses mediasi.
Secara analitis, tindakan para mahasiswa ini telah mencoreng institusi pendidikan hukum yang seharusnya menjadi rahim bagi para calon penegak keadilan.
Pemahaman hukum yang tinggi ternyata tidak menjamin empati dan etika di ruang digital.