BACA JUGA:Heboh! 16 Mahasiswa FH UI Terduga Pelecehan Punya Bekingan, DPR: Jangan Pandang Bulu
Hingga kini, identitas asli pemilik akun dengan puluhan ribu pengikut tersebut belum terungkap sepenuhnya ke publik, sementara perdebatan mengenai etika dan rekam jejaknya terus bergulir di media sosial.
Setelah UI Giliran UNPAD! Suka Minta Foto 'Bikini' Guru Besar Diduga Lakukan Pelecehan ke Mahasiswa Exchange
Seorang oknum yang baru saja dilantik menjadi Guru Besar di Universitas Padjadjaran diduga kuat melakukan pelecehan seksual terhadap seorang mahasiswa exchange (pertukaran pelajar) asal luar negeri.
Kasus pelecehan Guru Besar UNPAD ini meledak hebat setelah bukti-bukti percakapan tak pantas diunggah secara anonim, memicu kemarahan luas dan menuntut pertanggungjawaban moral dari pihak rektorat.
Skandal ini pertama kali mencuat melalui platform media sosial Twitter (kini X), tepatnya dari akun basis penggemar Unpadfess (@draftanakunpad4) pada tanggal 14 April 2026.
Cuitan tersebut menyedot perhatian luar biasa, dilihat lebih dari 1,2 juta tayangan dalam waktu singkat.
Akun tersebut membongkar ironi pelantikan sang dosen dengan melampirkan tangkapan layar percakapan yang meresahkan.
Dalam cuitannya, pengunggah menuliskan kritik tajam: "pad! this is your PARTY our GURU BESAR yang dilantik hari ini, ngelakuin sexual harassment ke mahasiswa exchange. bahkan udah dilaporin pun, malah tetap naik jd GURU BESAR,".
Bukti Chat Tak Pantas dan Pengakuan Korban
Dari tangkapan layar yang beredar, terlihat jelas oknum Guru Besar UNPAD tersebut mengirimkan pesan yang sangat tidak profesional melalui WhatsApp kepada sang mahasiswa exchange.
Ia secara terang-terangan meminta foto korban saat mengenakan pakaian renang.
Dalam salah satu pesannya tertulis, "I need your photo, When Swim in the Phuket beach, wearing bikini", yang kemudian ditolak secara halus namun tegas oleh korban.
Sang dosen bahkan menyuruh korban untuk meminum alkohol Brandy dan kembali meminta agar foto tersebut dikirimkan kepadanya malam itu juga.
Tidak hanya bukti percakapan dengan pelaku, terdapat pula tangkapan layar pesan langsung (DM) dari korban yang memberikan klarifikasi.
Korban menyatakan bahwa ia telah memblokir kontak pelaku dan melaporkan kejadian pelecehan seksual tersebut kepada dosen-dosen lain.