Diabetes Kini Mengintai Usia Muda, Gaya Hidup Serba Praktis Jadi Biang Keladinya

Selasa 09 Jun 2026 - 09:00 WIB
Reporter : Wira
Editor : Daren

BACA JUGA:Roti Tawar Terbaik untuk Sarapan Sehat: Lembut, Mengenyangkan, dan Cocok untuk Semua Usia

Menurutnya, masyarakat modern semakin terbiasa dengan gaya hidup sedentari atau kurang bergerak. 

Berbagai kemudahan teknologi membuat banyak aktivitas yang sebelumnya membutuhkan tenaga kini dapat dilakukan hanya melalui ponsel.

Mulai dari memesan makanan, berbelanja kebutuhan sehari-hari, hingga bekerja dan belajar dapat dilakukan tanpa harus meninggalkan tempat duduk. 

Meski memberikan kemudahan, kondisi ini berdampak pada penurunan aktivitas fisik harian secara drastis.

Teknologi Membuat Tubuh Semakin Jarang Bergerak

Perubahan gaya hidup dalam dua dekade terakhir berlangsung sangat cepat. 

Jika dulu seseorang harus berjalan kaki untuk membeli makanan atau memenuhi kebutuhan sehari-hari, kini hampir semua layanan tersedia melalui aplikasi digital.

BACA JUGA:Sarden Bukan Makanan Darurat, Ini 5 Alasan Kenapa Ikan Murah Meriah Ini Layak Jadi Menu Andalan

Kemudahan tersebut memang meningkatkan efisiensi, namun tanpa disadari juga mengurangi jumlah kalori yang dibakar tubuh setiap hari.

Ketika tubuh terus menerima asupan energi dalam jumlah besar sementara aktivitas fisik minim, kelebihan kalori akan disimpan sebagai lemak. 

Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan risiko obesitas yang menjadi salah satu pintu masuk utama diabetes tipe 2.

Hubungan Obesitas dan Diabetes Semakin Kuat

Para ahli kesehatan telah lama mengaitkan obesitas dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2.

Penumpukan lemak berlebih, terutama di area perut, dapat mengganggu sensitivitas insulin dalam tubuh.

Saat sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin, kadar gula darah cenderung meningkat. 

Kategori :