BACAKORAN.CO - Diabetes datang diam-diam dan kini menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di dunia, termasuk di Indonesia.
Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan sekitar 1 dari 10 warga berusia di atas 40 tahun hidup dengan diabetes melitus, kondisi kronis yang sering berkembang perlahan tanpa gejala jelas hingga akhirnya memicu komplikasi serius.
Penyakit yang identik dengan kadar gula darah tinggi ini bahkan mendapat julukan "mother of diseases" atau induk dari segala penyakit.
Sebab, diabetes bukan sekadar persoalan gula berlebih dalam tubuh, melainkan gangguan metabolisme kompleks yang perlahan merusak pembuluh darah dan sistem saraf.
Dampaknya tidak main-main. Dalam jangka panjang, diabetes mampu membuka jalan menuju penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, kerusakan mata yang berujung kebutaan, hingga amputasi akibat buruknya sirkulasi darah.
Kasus Diabetes di Asia Tenggara Mulai Mengkhawatirkan
Lonjakan penderita diabetes ternyata bukan hanya persoalan Indonesia.
Negara tetangga seperti Malaysia kini menghadapi situasi yang juga mengkhawatirkan, terutama karena ledakan kasus mulai menyerang kelompok usia produktif.
Fenomena ini memunculkan kekhawatiran besar karena diabetes tak hanya mengganggu kesehatan individu, tetapi juga berdampak pada produktivitas kerja dan stabilitas ekonomi jangka panjang.
Persoalan tersebut menjadi perhatian serius dalam agenda Diabetes Conference 2026 yang digelar di Kuala Lumpur beberapa waktu lalu.
Para pakar menilai pendekatan penanganan diabetes selama ini perlu dirombak total karena banyak kasus berkembang tanpa disadari.
BACA JUGA:Diabetes Kini Mengintai Usia Muda, Gaya Hidup Serba Praktis Jadi Biang Keladinya
Berdasarkan data National Health and Morbidity Survey atau NHMS, sekitar 15,6 persen populasi dewasa Malaysia kini hidup dengan diabetes.
Yang lebih mengejutkan, sekitar 5,9 persen warga lainnya ternyata memiliki kadar glukosa darah sangat tinggi, tetapi belum menyadari kondisi tersebut karena merasa tubuh masih baik-baik saja.