BACAKORAN.CO – PALEMBANG. Pergerakan pasar keuangan global menjelang akhir pekan menunjukkan dinamika yang cukup menarik. Dolar Amerika Serikat (USD) tercatat melemah tipis setelah data inflasi acuan Amerika Serikat yang menjadi perhatian utama Federal Reserve (The Fed) dirilis lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar.
Kondisi tersebut memicu optimisme bahwa ruang kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral AS semakin terbatas. Meski begitu, pelemahan dolar belum berlangsung signifikan karena sejumlah pejabat The Fed masih mempertahankan sikap hati-hati terhadap perkembangan inflasi.
Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi sentimen positif bagi nilai tukar Rupiah, meski berbagai faktor global masih berpotensi memicu volatilitas di pasar valuta asing.
BACA JUGA:Dolar AS Perkasa, Rupiah Tertekan! Kurs Hari Ini 24 Juni 2026 Dekati Rp18.000, Investor Waspada
Inflasi Amerika Melunak, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Berubah
Data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan menjadi katalis utama pelemahan dolar AS.
Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menyatakan bahwa tingkat suku bunga saat ini dinilai sudah berada pada posisi yang tepat untuk membawa inflasi menuju target bank sentral.
Komentar tersebut membuat investor mulai mengurangi ekspektasi adanya kenaikan suku bunga tambahan dalam waktu dekat. Jika tren inflasi terus melandai, peluang The Fed mempertahankan suku bunga semakin besar.
Bagi pelaku pasar, kondisi ini biasanya berdampak pada melemahnya indeks dolar dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, untuk bergerak lebih stabil.
BACA JUGA:Dolar AS Cetak Rekor Tertinggi Setahun, Rupiah Tertekan! Ini Faktor yang Menggerakkan Pasar Global
ECB Masih Bersikap Hawkish
Berbeda dengan Amerika Serikat, Bank Sentral Eropa (ECB) masih memberikan sinyal kebijakan moneter yang ketat.
Anggota Dewan Eksekutif ECB, Isabel Schnabel, menilai inflasi kawasan Eropa masih dipengaruhi oleh kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Karena itu, ECB masih membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan demi menjaga inflasi kembali ke target 2 persen.
Perbedaan arah kebijakan antara The Fed dan ECB menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pasar valuta asing global.
China Tambah Instrumen Likuiditas Baru
Sementara itu, People’s Bank of China (PBOC) mengumumkan peluncuran instrumen reverse repo tenor overnight yang mulai dioperasikan pada 29–30 Juni.