BACAKORAN.CO - Prospek pergerakan mata uang global pada paruh kedua 2026 diperkirakan masih didominasi oleh dolar Amerika Serikat (USD). Di tengah meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, pelaku pasar tetap menaruh perhatian besar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve serta kondisi ekonomi AS yang dinilai masih relatif tangguh.
Lembaga keuangan global UBS bahkan memperkirakan penguatan USD masih akan berlanjut hingga akhir tahun. Sementara itu, mata uang utama lainnya seperti euro (EUR) dan yen Jepang (JPY) diprediksi masih menghadapi tekanan.
Di sisi lain, perkembangan terbaru terkait konflik Timur Tengah, kebijakan Bank of Japan (BOJ), hingga ekspektasi suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA) menjadi faktor penting yang memengaruhi dinamika pasar keuangan global
BACA JUGA:Dolar AS Melemah Tipis, Harga Emas dan Minyak Kompak Naik! Begini Proyeksi Kurs Rupiah Hari Ini.
AS dan Iran Sepakat Hentikan Serangan, Fokus Beralih ke Jalur Diplomasi
Sentimen positif datang dari kawasan Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mencapai kesepakatan untuk menghentikan aksi saling serang.
Kedua negara juga dikabarkan berencana kembali menggelar pembicaraan damai di Doha guna membahas berbagai isu strategis, termasuk keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Bagi pasar keuangan global, perkembangan ini menjadi angin segar karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak mentah paling vital di dunia. Setiap peningkatan eskalasi di kawasan tersebut biasanya langsung memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas maupun dolar AS.
Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu kepastian hasil perundingan karena situasi geopolitik di kawasan tersebut dikenal sangat dinamis.
BACA JUGA:Dolar AS Cetak Rekor Tertinggi Setahun, Rupiah Tertekan! Ini Faktor yang Menggerakkan Pasar Global
Yen Jepang Tertekan, Pasar Menilai Pemerintah Tak Ingin BOJ Agresif Naikkan Suku Bunga
Yen Jepang kembali mengalami tekanan setelah muncul laporan bahwa pemerintah Jepang diperkirakan akan mempertahankan kebijakan moneter yang disebut sebagai “tepat” dalam pedoman ekonomi nasional.
Pasar menginterpretasikan pernyataan tersebut sebagai sinyal bahwa pemerintah belum menginginkan Bank of Japan menaikkan suku bunga secara agresif.
Akibatnya, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang diperkirakan melemah, sementara nilai tukar yen berpotensi terus terdepresiasi terhadap dolar AS.
Bagi investor, kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa selisih suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat masih akan tetap lebar dalam beberapa bulan ke depan.
RBA Diperkirakan Naikkan Suku Bunga pada Agustus
Di Australia, perhatian pasar tertuju pada Reserve Bank of Australia (RBA).
Sejumlah analis memperkirakan bank sentral Australia masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga pada Agustus 2026.