JPY Rp110,05 Rp111,00
Dolar AS Diprediksi Tetap Mendominasi Pasar Valas Global pada Semester II 2026
AUD Rp12.260 Rp12.362
SGD Rp13.761 Rp13.865
CNY Rp2.613,20 Rp2.644,53
Perbedaan kurs beli dan jual mencerminkan spread yang diterapkan masing-masing bank dalam transaksi valuta asing.
BACA JUGA:Dolar Meroket Tajam, Respon Lawas Prabowo Jadi Bumerang Usai Klaim Masyarakat Desa Aman
Insight: Mengapa Dolar Tetap Kuat Meski Konflik Mereda?
Banyak investor beranggapan bahwa ketika konflik geopolitik mulai mereda, dolar otomatis akan melemah. Namun kondisi saat ini menunjukkan dinamika yang lebih kompleks.
Kekuatan dolar bukan semata-mata dipengaruhi oleh faktor geopolitik, melainkan juga oleh kebijakan suku bunga The Fed, pertumbuhan ekonomi AS, serta tingginya permintaan global terhadap aset berbasis dolar.
Artinya, sekalipun risiko perang menurun, USD masih berpeluang menguat apabila fundamental ekonomi Amerika tetap lebih baik dibanding negara-negara maju lainnya.
Fenomena ini juga terlihat sepanjang beberapa siklus ekonomi sebelumnya ketika dolar tetap menjadi aset pilihan meski tensi geopolitik mulai mereda.
Pasar keuangan global memasuki semester kedua 2026 dengan sejumlah sentimen penting, mulai dari membaiknya hubungan AS-Iran, potensi kenaikan suku bunga Australia, hingga melemahnya yen Jepang akibat ekspektasi kebijakan Bank of Japan.
Di tengah berbagai dinamika tersebut, UBS tetap memproyeksikan dolar AS sebagai mata uang yang paling kuat hingga akhir tahun. Investor pun disarankan terus memantau perkembangan kebijakan bank sentral dunia serta situasi geopolitik yang masih berpotensi memengaruhi arah pasar valuta asing, harga emas, maupun minyak dunia.
Bagi pelaku bisnis, investor, maupun masyarakat yang rutin melakukan transaksi valas, memahami perkembangan global menjadi langkah penting untuk mengambil keputusan finansial yang lebih tepat di tengah volatilitas pasar.