Prediksi tersebut muncul karena konflik geopolitik yang berkepanjangan dinilai masih berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas dunia.
Dolar AS Diprediksi Tetap Mendominasi Pasar Valas Global pada Semester II 2026
Jika harga energi kembali meningkat, tekanan inflasi di Australia juga berpotensi bertahan lebih lama sehingga mendorong RBA mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
UBS: Dolar AS Masih Menjadi Raja Pasar Valas
Dalam proyeksi terbarunya, UBS menilai dolar AS akan tetap menjadi mata uang dengan performa terbaik sepanjang semester kedua 2026.
Beberapa faktor yang mendukung pandangan tersebut antara lain:
- Ekspektasi kenaikan suku bunga AS.
- Ketahanan ekonomi domestik Amerika Serikat.
- Tingginya permintaan aset berbasis dolar di tengah ketidakpastian global.
UBS juga memperkirakan:
- Euro berpotensi turun menuju level 1,12 per USD.
- Yen Jepang dapat melemah hingga kisaran 165 per USD sebelum akhir tahun.
Proyeksi tersebut mencerminkan masih kuatnya daya tarik dolar dibandingkan mata uang utama lainnya.
BACA JUGA:Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS! Harapan Damai AS-Iran Guncang Pasar Global
Harga Minyak dan Emas Masih Menjadi Sorotan Investor
Data pasar menunjukkan harga minyak mentah (Crude Oil) berada di sekitar US$69,90 per barel.
Sementara itu, harga emas (XAU) tercatat di kisaran 4.053,55, menunjukkan bahwa logam mulia masih menjadi salah satu instrumen yang diminati sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Meskipun ketegangan AS-Iran mulai mereda, investor tetap mempertahankan sebagian portofolio pada aset safe haven sebagai langkah antisipasi apabila negosiasi damai tidak berjalan sesuai harapan.
Pergerakan Nilai Tukar Mata Uang
Berdasarkan kurs perbankan terbaru, dolar AS diperdagangkan pada kisaran:
- Bank Buy: Rp17.840
- Bank Sell: Rp17.920
Sementara beberapa mata uang utama lainnya tercatat sebagai berikut:
Mata Uang Bank Buy Bank Sell
EUR Rp20.283 Rp20.439
GBP Rp23.510 Rp23.690