BACAKORAN.CO – Badan Keamanan Federal Rusia (FSB) resmi mendakwa pendiri sekaligus CEO Telegram, Pavel Durov, atas tuduhan membantu aktivitas terorisme dan memasukkan namanya ke dalam daftar buronan internasional.
Dakwaan ini diumumkan FSB pada Rabu, 29 Juli 2026, dan menempatkan Durov dalam ancaman hukuman penjara hingga seumur hidup jika terbukti bersalah di pengadilan Rusia.
FSB menuding platform Telegram membiarkan sejumlah kanal, grup obrolan, dan bot tetap beroperasi meski diklaim digunakan oleh dinas intelijen Ukraina serta kelompok teroris dan ekstremis untuk merencanakan sabotase, aksi teror, pembunuhan massal hingga penipuan siber di wilayah Rusia.
Otoritas Rusia menyebut kerugian akibat aktivitas tersebut mencapai miliaran dolar AS dan menimbulkan banyak korban jiwa, termasuk perempuan dan anak-anak.
BACA JUGA:39 Siswa SD di Sukabumi Diduga Keracunan Usai Minum Susu MBG Kedaluwarsa, Ini Kronologinya
Dasar Hukum Dakwaan
FSB menjerat Durov dengan Bab 1.1 Pasal 205.1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Rusia, yang mengatur soal bantuan terhadap aktivitas terorisme.
"Kepala administrasi Telegram, P Durov, telah didakwa sebagai bagian dari kasus pidana yang sedang berlangsung, dia telah dimasukkan dalam daftar buronan internasional," ujar pernyataan FSB.
Kuasa hukum Durov, Oleg Zernov, menyebut pasal yang dikenakan kepada kliennya berkaitan dengan tuduhan membujuk atau merekrut seseorang untuk melakukan tindak pidana terorisme, dengan ancaman hukuman minimal delapan hingga lima belas tahun penjara, bahkan bisa sampai seumur hidup.
BACA JUGA:Harga Sawit dan Karet Sumatera Akhir Juli 2026 Kompak Menguat, Petani Makin Optimistis
Kasus Chatbot Kencan Leomatch
Penyelidikan FSB turut menyoroti sebuah layanan chatbot kencan di Telegram bernama Leomatch, yang menurut otoritas Rusia dimanfaatkan dinas keamanan Ukraina untuk mendekati pemuda Rusia lewat hubungan romantis palsu di dunia maya.
Sepanjang Juli 2026, aparat Rusia menahan 46 warga di 16 wilayah yang diduga terjerat modus tersebut.
FSB mengklaim para agen menyamar sebagai perempuan, lalu mengarahkan target ke lokasi tertentu seperti pusat perbelanjaan atau area dekat fasilitas penting, dengan iming-iming tiket bioskop, konser, atau hadiah melalui tautan phishing.
Sebagian target disebut kemudian diarahkan untuk menyerang petugas penegak hukum maupun melakukan pembakaran fasilitas publik. Klaim ini sepenuhnya berasal dari pernyataan resmi FSB dan belum diuji secara independen.
BACA JUGA:Sudaryono Tegaskan Dapur Makan Bergizi Gratis Tak Boleh Pakai Barang Subsidi, Ini Alasannya
Dakwaan terbaru ini menambah panjang riwayat friksi antara Durov dan pemerintah Rusia.