BACAKORAN.CO, JAKARTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan sebagai harapan gizi sehat bagi jutaan pelajar Indonesia, justru menyisakan derita yang tak kunjung usai. Data yang terhimpun dari berbagai pemantauan independen hingga awal Agustus 2026 mencatat: lebih dari 40.700 orang, mayoritas siswa sekolah, jatuh sakit setelah mengonsumsi makanan dari program ini. Angka itu terus bertambah dari bulan ke bulan, menyebar ke 36 provinsi di seluruh Indonesia.
BACA JUGA:39 Siswa SD di Sukabumi Diduga Keracunan Usai Minum Susu MBG Kedaluwarsa, Ini Kronologinya
Dari Ribuan Menjadi Puluhan Ribu: Angka yang Tak Berhenti Naik
Kasus keracunan pertama tercatat pada Januari 2025, tak lama setelah program mulai berjalan. Saat itu, puluhan siswa di Sukoharjo, Jawa Tengah, dilaporkan jatuh sakit. Siapa yang menyangka, apa yang bermula dari puluhan kasus perlahan berubah menjadi gelombang besar yang menyapu pulau demi pulau.
Berikut lompatan angka yang mencerminkan betapa cepatnya masalah ini meluas:
- September 2025: 5.360 anak terdampak
- Oktober 2025: Melonjak menjadi 11.566 anak
- Mei 2026: Melonjak tajam ke 37.270 orang
- Awal Agustus 2026: Menembus 40.759 orang dan terus bertambah
Lebih mencengangkan, angka ini adalah yang tercatat dan terverifikasi. Masih banyak kemungkinan kasus yang tidak dilaporkan ke publik.
Kasus Terbesar: Ratusan Sekaligus Tumbang di Satu Hari
Catatan kronologis menyisakan deretan mencekam, di mana dalam sekejap ratusan siswa harus dilarikan ke puskesmas dan rumah sakit. Kasus-kasus terbesar antara lain:
- Juli 2026, Kota Semarang: 707 orang — 693 siswa dan 14 guru — jatuh sakit secara bersamaan. Ini menjadikannya kasus terbesar sepanjang perjalanan program.
- Agustus 2026, Kabupaten Jayapura: 543 warga sekolah menderita gejala keracunan.
- Agustus 2026, Kabupaten Karo, Sumatera Utara: 353 siswa dari lima sekolah berbaring lemah.
- September 2025, Lampung: 503 orang terdampak dalam satu peristiwa.
- Agustus 2025, Bengkulu: 467 orang menderita setelah mengonsumsi makanan program.
Dari Sabang hingga Merauke, hampir seluruh provinsi telah melaporkan kejadian serupa. Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah korban terbanyak secara kumulatif.
Akar Masalah: Makanan yang Seharusnya Menyehatkan, Justru Membawa Penyakit
Hasil pemeriksaan terhadap makanan sisa dan sampel yang diambil dari berbagai lokasi kejadian berulang kali menunjukkan temuan yang sama:
- Kontaminasi Bakteri: E. coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus terdeteksi berulang kali — tanda kuat kebersihan yang sangat buruk.
- Penyimpanan yang Salah: Makanan dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang, tidak dijaga suhu panas/dinginnya saat didistribusikan.
- Bahan Kadaluwarsa: Susu UHT dan bahan makanan lain ditemukan sudah lewat masa pakainya.
- Pelanggaran SOP yang Sistemik: Proses penyiapan, pengemasan, hingga penyaluran ternyata berjalan tanpa pengawasan yang memadai.
Yang memprihatinkan: temuan ini terulang berkali-kali di ribuan kilometer jarak antar provinsi. Artinya, ini bukan sekadar kesalahan koki di satu dapur, melainkan gagal sistem yang merembet ke mana-mana.
Pertanyaan Besar yang Belum Terjawab
Sudah hampir dua tahun berlalu sejak kasus pertama muncul. Angka korban telah menembus puluhan ribu, menyebar ke hampir seluruh provinsi. Namun masyarakat masih menunggu jawaban tegas:
Mengapa kesalahan yang sama terus terulang? Mengapa ribuan anak harus membayar dengan sakitnya, sementara perbaikan sistem terasa berjalan sangat lambat?
Sampai hari ini, belum ada daftar resmi lengkap per provinsi yang diterbitkan pemerintah. Angka yang beredar pun berbeda antar lembaga — ada yang mencatat belasan ribu, ada yang mencatat lebih dari 40 ribu. Yang pasti: setiap angka itu mewakili seorang anak yang sakit, orang tua yang cemas, dan masa depan yang terancam.