BACAKORAN.CO – Pergerakan mata uang utama Asia kembali menjadi perhatian pasar pada awal September 2026. Yen Jepang berada di sekitar level 160 per dolar AS, sementara dolar Australia bertahan di bawah 0,72 dolar AS. Di sisi lain, rupiah relatif stabil di kisaran Rp17.750 per dolar AS.
Pergerakan tersebut berlangsung ketika pasar mencermati arah kebijakan suku bunga Jepang dan Australia, serta perkembangan kepemimpinan baru Bank Indonesia. Tekanan terhadap yen juga kembali menjadi perhatian setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendorong Jepang mengambil langkah yang dapat memperkuat mata uangnya.
BACA JUGA:USD Menguat, Yen Jepang Mendekati 160 per Dolar: Pasar Waspadai Intervensi Tokyo
Yen Jepang Kembali Mendekati 160 per Dolar AS
Yen kembali menghadapi tekanan setelah bergerak mendekati level 160 per dolar AS.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pelemahan yen yang terlalu cepat dapat meningkatkan biaya impor Jepang, terutama ketika harga energi dan komoditas global masih tinggi.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya bertemu Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama dan Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda dalam pertemuan G20. Dalam pembicaraan tersebut, Bessent menyampaikan dukungannya terhadap langkah Jepang yang dapat mendorong penguatan yen, termasuk melalui kebijakan suku bunga.
Pasar kemudian meningkatkan perhatian terhadap kemungkinan BOJ menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Reuters melaporkan probabilitas kenaikan suku bunga BOJ pada pertemuan tersebut telah mencapai sekitar 73 persen.
Tekanan terhadap yen juga tidak terlepas dari perbedaan tingkat suku bunga antara Jepang dan negara-negara besar lainnya.
Jika BOJ menaikkan suku bunga, aset berdenominasi yen berpotensi menjadi lebih menarik. Namun, analis menilai satu kali kenaikan belum tentu cukup untuk membalikkan tren pelemahan yen secara berkelanjutan.
Jepang juga sebelumnya telah melakukan intervensi valuta asing bersama Amerika Serikat untuk menopang yen. Langkah tersebut belum sepenuhnya menghilangkan tekanan terhadap mata uang Jepang.
BACA JUGA:Rupiah Tertekan! Neraca Dagang Defisit, Yen Bikin Pasar Geger
AUD Masih Bertahan di Bawah 0,72 Dolar AS
Sementara itu, dolar Australia atau AUD masih bergerak di bawah level 0,72 dolar AS.
Mata uang Australia mendapatkan dukungan dari meningkatnya ekspektasi bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) masih dapat menaikkan suku bunga.
Data inflasi terbaru menjadi salah satu faktor yang membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter.
Berdasarkan data Australian Bureau of Statistics, inflasi Australia pada Juli 2026 mencapai 3,5 persen secara tahunan, turun dari 3,8 persen pada Juni. Namun, inflasi inti menggunakan ukuran trimmed mean masih berada di 3,6 persen.