BACA JUGA:BGN Tegaskan Aturan Baru, Dapur Program MBG Dilarang Dekat TPA & Kandang Hewan, Ini Penjelasannya!
BACA JUGA:KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Indra Iskandar Terkait Korupsi Furniture DPR RI, Kenapa?
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mendesak Beijing menghentikan penindasan terhadap umat Kristen dan menjamin kebebasan beribadah tanpa intimidasi.
Namun, Kementerian Luar Negeri China menolak tudingan tersebut.
Juru bicara Lin Jian menegaskan bahwa pemerintah hanya menegakkan hukum dan melindungi kegiatan keagamaan yang “sesuai aturan.”
Ia juga memperingatkan negara lain agar tidak mencampuri urusan dalam negeri China.
BACA JUGA:Perusahaan Baja Israel Bangkrut Gegara Embargo Turki Usai Perang Gaza, Rugi Rp530 Miliar!
BACA JUGA:Peraturan Terbaru, Dapur MBG Wajib Upload Foto dan Video Agar BGN Mudah Meninjau!
Gereja di Bawah Tekanan Xi Jinping
Menurut lembaga nirlaba Global Christian Relief, kebebasan beragama di China terus menurun sejak Xi Jinping berkuasa pada 2012.
Pemerintah memperketat pengawasan terhadap kegiatan keagamaan lewat kebijakan “Sinisasi agama”, yang bertujuan menyesuaikan ajaran agama dengan ideologi Partai Komunis.
Langkah ini mencakup pembongkaran gereja, penghapusan salib, hingga penahanan tokoh-tokoh gereja yang menolak mendaftar di bawah pemerintah.
BACA JUGA:Ini Modus Mobil Brio Merah Kabur Usai Isi Pertalite Rp200 Ribu di SPBU Ciputat Timur
BACA JUGA:Dinas Pendidikan Klarifikasi Video Viral SMPN 31 Palembang Bukan Bullying, Sudah Diselesaikan Damai
“Pemerintah ingin mengendalikan keyakinan rakyatnya. Mereka ingin setiap pikiran tunduk pada partai,” ujar Mirro Ren, mantan anggota gereja Early Rain Covenant yang kini tinggal di Amerika Serikat.
Pendiri ChinaAid, Bob Fu, menambahkan bahwa banyak pemimpin gereja rumah kini dianggap sebagai “ancaman politik dan ideologis”.
“Xi ingin dihormati layaknya Tuhan. Jika kamu tidak tunduk dan menyembahnya, kamu dianggap ancaman bagi negara,” ucap Fu.