Salah satu fokus perhatian adalah wilayah Pantai Utara Jawa yang kerap terdampak banjir dan rob akibat kombinasi faktor curah hujan, penurunan muka tanah, dan kenaikan permukaan air laut.
“Jadi, perhatian Bapak Presiden untuk bagaimana kita bisa menyelesaikan itu dari hulu ke hilir, termasuk dengan tim otorita pengelolaan pantai utara Jawa atau yang selama ini lebih dikenal dengan yang sedang mempersiapkan untuk proyek Giant Sea Wall,” ujar Prasetyo.
Banjir yang terjadi dalam beberapa hari terakhir tidak hanya berdampak pada permukiman warga, tetapi juga mengganggu infrastruktur vital serta aktivitas sosial dan ekonomi.
Sejumlah ruas jalan utama tergenang air, menghambat mobilitas masyarakat.
Selain itu, transportasi publik, termasuk jalur perkeretaapian, turut terdampak akibat genangan air di beberapa titik, sehingga memengaruhi kelancaran pelayanan kepada masyarakat.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk mempercepat langkah-langkah mitigasi agar dampak lanjutan dapat diminimalkan.
Selain menyiapkan kebijakan jangka panjang, Presiden Prabowo juga menginstruksikan langkah-langkah taktis untuk menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang tengah berlangsung.
Salah satu langkah yang diperkuat adalah operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).
BACA JUGA:KPK Temukan Uang Rp2,6 Milyar Hasil Pemerasan Bupati Pati Sudewo Didalam Kresek Hitam
“Kami telah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kemudian dengan BNPB, kemudian juga dengan BMKG untuk bagaimana memperkuat atau menambah operasi modifikasi cuaca yang dilaksanakan di wilayah Jabodetabek dengan harapan bisa mengurangi tingginya curah hujan,” jelas Prasetyo.
Langkah tersebut diambil sebagai respons atas meningkatnya curah hujan yang memicu banjir di berbagai titik.
Pemerintah berharap, melalui penguatan operasi modifikasi cuaca, intensitas hujan ekstrem dapat ditekan sehingga risiko banjir susulan dapat dikurangi.
Pemerintah menegaskan bahwa ke depan penanganan banjir tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga berbasis perencanaan jangka panjang yang matang, terukur, dan terintegrasi.