Para analis politik menilai bahwa kebijakan ini dapat meningkatkan ketegangan regional dan memperumit hubungan diplomatik Israel dengan negara-negara lain, terutama menjelang pemilu parlemen Israel yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.
Kontroversi ini muncul di tengah situasi politik Israel yang sensitif.
Partai Zionisme Religius yang dipimpin Smotrich berusaha memperkuat posisinya menjelang pemilu, dan isu keamanan serta kedaulatan menjadi tema utama kampanye politik sayap kanan.
BACA JUGA:Viral! Karyawan SPPG Pamer Gaji dengan Sindir Guru Honorer Bikin Netizen Geram
Langkah-langkah yang diusulkan Smotrich berpotensi memengaruhi dinamika politik domestik Israel sekaligus memperbesar perhatian dunia terhadap konflik Israel-Palestina.
Banyak pihak menilai bahwa masa depan konflik ini akan sangat bergantung pada keputusan politik yang diambil dalam waktu dekat, serta respons dari komunitas internasional.
Meski belum ada kebijakan resmi yang sepenuhnya mengimplementasikan gagasan migrasi tersebut, pernyataan Smotrich telah menjadi simbol meningkatnya ketegangan politik dan ideologis di kawasan tersebut.