BACAKORAN.CO – Viral di media sosial X sebuah unggahan yang memperlihatkan truk Koperasi Desa Merah Putih sedang mengambil barang di PT Indomarco Surabaya.
Kejadian ini memicu tanda tanya besar di kalangan warganet mengenai konsep kesejahteraan UMKM yang selama ini digaungkan oleh pemerintah.
Banyak pihak yang mempertanyakan mengapa alur distribusi barang untuk desa harus melewati jaringan ritel raksasa, bukan langsung mengambil dari pabrik utama.
Informasi ini bermula dari sebuah unggahan gambar dan video yang dibagikan oleh akun X bernama TaliUdeng.
Dalam unggahan tersebut, tampak sebuah truk bak terbuka berwarna putih bertuliskan Koperasi Desa Merah Putih sedang melakukan proses muat barang.
Gambar yang awalnya mencantumkan sumber dari akun adogawe.palembang itu menyertakan keterangan mengejutkan, Keciduk, Mobil Kopdes ngambil barang di PT Indomarco Surabaya.
Sontak pemandangan mobil Kopdes ini membuat kamu yang peduli pada ekonomi kerakyatan mulai menyoroti transparansi rantai pasokan.
Analisis Rantai Pasokan Dan Kualitas Logistik
Secara logika bisnis ketika sebuah koperasi yang ditugaskan untuk menggerakkan roda ekonomi kerakyatan justru mengambil barang dari distributor minimarket modern hal ini menciptakan anomali harga.
Harga jual barang ke masyarakat desa berpotensi menjadi sama, atau malah lebih mahal dibandingkan berbelanja langsung di ritel modern.
BACA JUGA:Mendekam di Bui, Ferdy Sambo Tiba-tiba Lulus S2 Jalur Beasiswa! Begini Penjelasan Ditjen Pas
Idealnya program semacam ini memutus rantai distribusi yang panjang dengan mengambil barang dari distributor tingkat 1 atau pabrik untuk mendapatkan margin terbaik demi menyejahterakan warga.
Selain masalah harga, standar kualitas pengiriman juga menjadi sorotan tajam.
Menggunakan truk bak terbuka yang tidak tertutup rapat sangat rawan merusak kualitas produk, terutama jika terpapar cuaca ekstrem.
Pada umumnya standar operasional logistik ritel wajib menggunakan truk boks atau blind van untuk menjaga keamanan komoditas hingga sampai ke tangan konsumen.